Tanggapan Tokmas Terkait Hearing Komisi II VS Dinas PUPR

  • Whatsapp
Puluhan warga Pekon Bedudu gotong royong memperbaiki jembatan Way Netak

Medialampung.co.id – Sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Komisi II DPRD Lampung Barat (Lambar) dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). DPRD Lambar akan menggelar hearing untuk membahas tiga item pembangunan infrastruktur fisik yang diindikasikan mengalami masalah, Senin (6/1) besok.

Tiga poin yang akan dikupas bersama oleh Komisi II dengan Dinas PUPR tersebut, diantaranya Pembangunan Jembatan Sungai (Way) Netak, Pekon Bedudu, Kecamatan Belalau, yang hanya dibangun pondasinya sejak tahun 2018 dan hingga kini masih menjadi bangunan mangkrak.

Muat Lebih

Kemudian pembangunan Gedung Serba Guna (GSG) Kecamatan Sumberjaya, di Kelurahan Tugusari, yang juga baru berdiri tiang bangunan yang dibangun pada tahun 2019, serta pembangunan tempat ibadah di Kecamatan Pagardewa.

Hearing itu diharapkan jadi awal dilakasanakan pengecekan secara detil ke masing-masing item pembangunan yang menelan anggaran cukup fantastis, yakni Jembatan Way Netak senilai Rp900 juta, GSG Sumberjaya senilai Rp900 juta dan tempat ibadah Pagardewa senilai Rp400 juta.

Dikatakan Tokoh Masyarakat (Tokmas) Kecamatan Belalau yang juga anggota DPRD Lambar Hi. Bahrin Ayub, S.H., pihaknya mendukung langkah yang dilakukan oleh Komisi II, karena hearing akan menjadi modal dasar bagi aleg terkait untuk meneruskan ke tahapan berikutnya yakni pengecekan lokasi, maupun untuk kaporan lanjutan kepada institusi berkompeten lainnya.

Maka dari itu saat pengecekan perlu menyertakan tenaga ahli di bidangnya. Sekaligus menyerap keterangan masyarakat sekitaran terkait seperti apa proses pembangunan berlangsung.

“Kita juga akan melakukan pemantauan terhadap perkembangannya, sebab seperti pembangunan Jembatan Way Netak yang kebetulan di wilayah tempat tinggal saya di Kecamatan Belalau, dari saat pengerjaan banyak laporan yang masuk, bahkan saya pernah meninjau secara langsung,” terangnya.

Menurut pandangan Bahrin, melihat kondisi jalur menuju titik jembatan yang dibangun, untuk lintasan kenderaan roda dua (motor) saja susah, sehingga tidak mungkin alat kerja dapat masuk. “Seharusnya sebelum bangun jembatan yang skalanya sebesar itu lebih baik dibangun dulu badan jalannya,” sebutnya dan beberapa harapan dan masukan lainnya yang disebutkannya.(ius/mlo)

Pos terkait