Akibat Perubahan Siklus, Air Laut Berwarna Coklat

  • Whatsapp

Medialampung.co.idSejak sepekan terakhir kondisi air laut di perairan Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar) berubah warna menjadi coklat. Meski mengalami perubahan warna, dampak fenomena itu belum terlihat terutama terhadap hasil tangkapan ikan bagi nelayan setempat.

Rohim, salah satu nelayan di Kecamatan Pesisir Tengah mengaku kondisi air laut yang sebelumnya berwana biru, kini menjadi coklat itu terjadi di perairan Pesbar. Seperti dikawasan wisata pantai Labuhan Jukung sajak sepakan terakhir warna laut menjadi coklat.

Bacaan Lainnya



“Perubahan warna itu terjadi setelah memasuki musim kemarau panjang yang menyebabkan lumpur atau faktor lain dari dasar laut yang naik ke permukaan,” katanya, Kamis (19/12).

Ditambahkannya, meski mengalami perubahan warna pada air laut itu, hingga kini belum terlalu berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan. Warna air laut itu akan kembali seperti semula tergantung dengan arus laut.

“Itu bukan karena faktor pencemaran, tapi terjadi karena faktor alam. Bahkan, karena ada perubahan faktor alam di perairan Pesbar ini sempat terjadi musim ubur-ubur kecil yang cukup banyak,” jelasnya.

Sementara itu, kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pesbar, Armen Qodar, S.P, M.M., melalui Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) Dinas Perikanan setempat, Eko Rahmanto, S.Tr.Pi., menjelaskan perubahan warna pada air laut di perairan Pesbar yang menjadi coklat sejak sepakan terakhir itu bukan karena ada pencemaran air laut. Melainkan ada perubahan siklus air laut yang disebabkan karena banyaknya organisme dari dasar laut seperti alga yang bercampur.

“Itu menyebabkan warna laut menjadi coklat, bahkan ada juga alga yang membuat air laut terlihat terang saat malam hari,” katanya.

Masih kata dia, fenomena air laut berwarna coklat selain disebabkan oleh bercampurnnya organisme ataupun material lain dari dasar laut, juga bisa saja akibat banjir dari aliran sungai yang menuju ke laut. Namun untuk di perairan Pesbar yang saat ini masih terjadi itu dikarenakan organisme di laut, biasanya memang terjadi setelah musim kemarau panjang.

“Mudah-mudahan kondisi ini tidak terlalu berdampak pada ekosistem laut dan hasil tangkapan nelayan dan tidak berbahaya bagi masyarakat,” pungkasnya.(yan/d1n/mlo)



Pos terkait