Anak yang Lahir di Rumah Bilingual Dapat Alihkan Perhatian Lebih Cepat

  • Whatsapp
ilustrasi bayi. ©www.handinhandparenting.org

Medialampung.co.id – Bagi banyak rumah tangga di Indonesia, seorang anak biasanya tidak hanya dibesarkan dengan hanya satu bahasa. Selain bahasa Indonesia, anak biasanya juga dibesarkan dengan bahasa daerah setempat.

Kondisi rumah dengan dua bahasa ini biasa dikenal dengan bilingual. Banyak anak di Indonesia yang mengalaminya sejak mereka bayi dengan berganti-ganti antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah.

Bacaan Lainnya



Sebuah penelitian mengungkap bahwa bayi yang lahir di rumah bilingual bisa mengganti perhatian lebih cepat dan lebih sering dibanding mereka yang hanya berbicara satu bahasa. Hal ini diketahui berdasar penelitian yang dipublikasikan dari journal Royal Society Open Science.

Dilansir dari Medical Xpress, penelitian ini dilakukan oleh Anglia Ruskin University (ARU). Pada penelitian ini digunakan teknologi eye-tracking untuk merekam pandangan dari 102 balita yang diminta melakukan berbagai macam tugas.

Peneliti memiliki untuk mengetes bayi yang berusia antara tujuh hingga sembilan bulan untuk melihat manfaat yang diperoleh dari berbicara bahasa kedua atau yang biasa disebut sebagai bilingual. Penelitian ini berfokus pada efek dari tumbuh dengan dua atau lebih bahasa di rumah.

Ketika ditunjukkan dua gambar berdampingan, balita dari rumah bilingual bisa memindahkan perhatian dari satu ke lain lebih rutin. Hal ini menjelaskan bahwa bayi mengekplorasi lingkungan mereka lebih banyak.

Penelitian juga menemukan bahwa ketika gambar baru muncul di layar, bayi dari rumah bilingual 33 persen lebih cepat memindahkan perhatian mereka.

“Lingkungan bilingual mungkin lebih beragam dan tak bisa diprediksi dibanding lingkungan monolingual sehingga mungkin lebih sulit untuk dipelajari. Kamu mengetahui bahwa bayi bisa mudah memperoleh berbagai bahasa, sehingga kami ingin mempelajari bagaimana cara mengelolanya. Hasil penelitian kami menyatakan bahwa bayi dari rumah bilingual beradaptasi pada lingkungan mereka yang lebih kompleks dengan mencari informasi tambahan,” terang peneliti Dr. Dean D’Souza dari Anglia Ruskin University (ARU).

“Mempelajari lingkungan mereka lebih cepat dan sering mungkin membantu balita dalam sejumlah cara. Sebagai contoh, mengubah perhatian mereka dari mainan pada uung speaker bisa membantu balita untuk menyamai suara bicara yang ambigu dengan gerakan mulut,” sambungnya.

Peneliti saat ini tengah mempelajari bagaimana hal ini bisa mempengaruhi perkembangan mereka. Sebagai contoh, apakah kondisi rumah bilingual ini berdampak pada perilaku bayi saat usia anak atau dewasa. (merdeka/mlo)



Pos terkait