Atasi Konflik, Balai Besar TNBBS Kembali Pasang GPS Collar ke Gajah Bunga

Foto ilustrasi GPS Collar gajah

Medialampung.co.id- Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) akan kembali melakukan pemasangan GPS Collar ke Gajah Bunga yang beberapa waktu lalu terlepas, sehingga menyulitkan petugas melakukan pemantauan pergerakan kawanan gajah bunga. 

Proses pemasangan dimulai Rabu (22/12), dengan menerjunkan dokter hewan dari Bandarlampung dan melibatkan mitra Balai Besar TNBBS dalam hal ini Wildlife Response Unit (WRU), Wildlife Conservation Society (WCS), im Rhino Protection Unit (RPU) YABI dan juga Mahout dari Pemerihan. 

Bacaan Lainnya


Kasat Polhut Balai Besar TNBBS Agus Hartono, S.Sos., mengungkapkan, sasaran pemasangan GPS collar adalah gajah Bunga, yang saat ini terpantau sebanyak 15 ekor berada di sekitar Blok Sembilan perbatasan Lampung Barat dan Tanggamus. 

“Pemasangan GPS Collar akan diupayakan kembali dilakukan terhadap gajah Bunga, untuk kelompok ini awalnya berjumlah sebanyak 12 ekor tetapi setelah dihitung kembali ada 15 ekor, dan tiga ekor itu ternyata yang tertinggal dari kelompok gajah pemerihan atau kelompok Gajah Jambul,” ungkap Agus. 

Untuk suksesnya pemasangan GPS Collar tersebut, pihaknya mendatangkan Sugeng dokter hewan dari Bandarlampung yang akan meracik bius, yang nantinya akan disuntik dengan cara ditembakkan ke Gajah Bunga untuk memberikan efek setengah sadar. 

“Pemasangan GPS Collar sendiri akan kami lakukan dengan cara dikalungkan, namun sebelum itu akan diberikan bius dengan dosis yang akan disiapkan oleh dokter hewan agar gajah tersebut bisa setengah sadar, dan tentunya pemasangan akan dilakukan dengan cepat,” kata dia. 

Setelah pemasangan selesai, kata dia, maka selanjutnya akan dilakukan penggiringan untuk mempertemukan antara kelompok gajah Bunga dan Gajah Jambul, mengingat kelompok tiga ekor yang ada di kelompok Gajah Bunga adalah anggota kelompok dari Gajah Jambul. 

“Jadi akan kami giring, apakah Gajah Bunga atau Gajah Jambul yang pastinya akan kami upayakan untuk dipertemukan,” kata dia. 

Lebih lanjut Agus mengungkapkan, masyarakat Suoh dan Bandarnegeri Suoh (BNS) harus bisa berbagi ruang dan hidup berdampingan dengan satwa dilindungi tersebut, terlebih wilayah Suoh dan BNS merupakan wilayah TNBBS yang merupakan habitat asli dari berbagai jenis satwa salah satunya gajah.

“Kami lakukan pemasangan GPS Collar ini adalah salah satu solusi agar konflik antara gajah dan manusia bisa diminimalisasi, dimana nantinya kawanan gajah bisa terpantau dan ketika mendekati pemukiman penduduk maka akan langsung diberitahukan kepada masyarakat untuk langkah antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, masyarakat harus bisa berbagi ruang dengan Satwa karena Suoh dan BNS sebagian wilayah TNBBS,” pungkasnya.(nop/mlo)


Pos terkait