BBPBL Lampung Cek Ledakan Populasi Alga di Perairan Pesbar

  • Whatsapp
Penyaringan air laut, untuk pengamatan sampel plankton

Medialampung.co.id Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan pengecekan terhadap sampel air laut di perairan Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar) di perairan Kecamatan Bangkunat, Jum’at (20/12).

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pesbar, Armen Qodar, S.P, M.M., melalui Penyuluh Perikanan Bantu (PPB), Eko Rahmanto, S.Tr.Pi., mengatakan, kunjungan BBPBL Lampung yakni Muawanah, S.P, M.Si., itu menindaklanjuti laporan yang disampaikan Dinas Perikanan Pesbar, mengenai kondisi air laut di Kabupaten Pesbar yang mengalami perubahan warna dan berdampak ada beberapa ikan yang mati.

Bacaan Lainnya



“Dalam kunjungan itu dilakukan pengecekan uji sample air laut dan sample pada ikan yang mati, terutama di perairan Kecamatan Bangkunat,” katanya, Minggu (22/12).

Dijelaskannya, dalam uji sample itu disimpulkan perubahan warna air laut bukan karena dampak dari limbah, melainkan karena upwelling nutrisi dari dasar laut, sehingga menyebabkan ledakan populasi alga (mikroorganisme) dan berpengaruh pada perubahan warna di ekosistem perairan dengan warna sesuai dengan jenis alga. Sementara diperairan Pesbar jenis fitoplankton-nya masih di identifikasi.

“Dari sampling plankton menggunakan alat planktonnet ukuran 20 mikron, sementara ini disimpulkan jenis fitoplankton dinoflagellata itu membuat warna air laut terlihat merah atau cokelat disiang hari dan cahaya biru neon saat malam hari atau sering disebut red tide,” jelasnya.

Ditambahkannya, alga merupakan mikroorganisme perairan yang menyerupai tumbuhan dan akan bereaksi saat disinari cahaya matahari. Organisme yang disebut fitoplankton itu merupakan dasar dari rantai makanan di perairan. Karena itu fenomena red tide di perairan Pesbar akan berlangsung sekitar dua pekan kedepan sesuai kondisi arus laut.

“Sedangkan matinya beberapa ikan akibat ledakan populasi alga di perairan Pesbar itu hanya terjadi di wilayah teluk, seperti di wilayah perairan Bangkunat dan sekitarnya akibat populasi alga mengendap dan tidak terbawa arus laut,” jelasnya.

Hal itu terbukti berdasarkan uji sampel ikan yang mati karena bagian insang (alat pernapasan ikan) rata-rata tertutup alga.

 “Itu menyebabkan ikan tidak bisa bernapas dan mati, sedangkan ikan di perairan yang masih mengalami ledakan populasi alga itu aman untuk dikonsumsi,” katanya.

Namun, masih kata Eko, sementara ini pihak dari BBPBL menganjurkan masyarakat untuk tidak mengkonsumsi kerang yang berasal dari perairan Pesbar seperti kerang hijau dan sejenisnya. Hal itu karena kerang menyerap asam amonia, jika dikonsumsi dapat menyebabkan pusing, mual dan sebagainya.

“Tim dari BBPBL juga membawa semua sample air laut dan ikan untuk diteliti lebih lanjut, sebab kondisi ledakan populasi alga di perairan Pesbar itu jarang terjadi,” pungkasnya.(yan/d1n/mlo)



Pos terkait