Beberapa Tindakan Medis Saat Puasa Ramadhan

  • Whatsapp
Miftahus Surur, S. Ag.,M. SI

(oleh : Mifahus Surur, S.Ag.,MSI) 

Pada saat puasa Ramadhan, tidak sedikit diantara umat Islam yang diberi cobaan oleh Allah swt berupa sakit yang akhirnya mengharuskan tindakan medis, baik melalui perawatan maupun pengobatan sendiri.

Bacaan Lainnya



Terdapat beberapa tindakan medis yang dapat membatalkan dan juga tidak membatalkan puasa seseorang, diantaranya:

  1. Menggunakan obat semprot asma. Obat ini merupakan obat penyakit asma dimana penggunaannya dengan cara disemprotkan ke dalam mulut. Penggunaan cara ini membatalkan puasa.
  2. Oksigen. Pemberian oksigen bagi orang sakit yang dilakukan dengan cara menghirup tidak membatalkan puasa selama oksigen tersebut tidak dicampur dengan obat. Hukum ini disamakan dengan hukum menghirup udara biasa.
  3. Inhalation. Ini adalah metode pengobatan dengan cara menghirup asap melalui mulut, hidung, atau dengan alat tertentu. Metode pengobatan ini membatalkan puasa karena sengaja memasukkan asap ke dalam tenggorokan. Hal ini dapat juga disandarkan dengan merokok yang dihukumi membatalkan puasa karena ada sesuatu yang masuk hingga ke tenggorokan. 
  4. Injeksi (menyuntik). Injeksi adalah memasukkan obat atau nutrisi makanan menggunakan alat suntik, baik ke dalam otot atau pembuluh darah. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat; mayoritas ulama mengatakan tidak membatalkan puasa, sebab obat atau nutrisi tidak masuk melalui lubang terbuka. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa jika yang disuntikkan adalah nutrisi makanan maka membatalkan puasa. Lalu sebagian ulama lain menyatakan, injeksi membatalkan puasa secara mutlak, baik berupa nutrisi makanan atau obat. 
  5. Donor darah. Hukum donor darah sama seperti bekam tidak membatalkan puasa. Hanya saja, jika dengan donor darah menimbulkan dampak yang negatif, maka sebaiknya tidak dilakukan.
  6. Catheter. Catheter merupakan sebuah tabung yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk mengeluarkan atau memasukkan cairan ke dalam rongga tubuh. Menurut mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, catheter tidak membatalkan puasa, sedangkan menurut mazhab Syafi’i catheter membatalkan puasa.
  7. Meneteskan obat ke mata, telinga, dan hidung. Meneteskan obat tetes ke mata tidak membatalkan puasa, karena tidak ada lubang penghubung antara mata, perut, dan otak. Akan tetapi, meneteskan obat ke dalam telinga dan hidung dapat membatalkan puasa, sebab keduanya merupakan lubang terbuka. 

Nah ketika terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama, manakah yang dipilih? Hal tersebut tergantung pada pendirian masing-masing. Akan tetapi sangat dianjurkan bahwa bagi pengikut mazhab tertentu, maka ikutilah pendapat mazhab tersebut. Insya Allah itulah pilihan yang terbaik. Wallahu a’lam bisshowab. (MS).



Pos terkait