Belut

  • Whatsapp

oleh Miftahus Surur,  S. Ag., M.SI

 

Bacaan Lainnya



Setiap mampir ke rumah makan Padang, atau juga ketika bermain-main di perkampungan yang dekat dengan daerah persawahan akan ditemukan jenis makanan atau binatang yang bernama belut. Binatang air yang satu ini memang sangat akrab dan rasanya cukup menggiurkan, baik itu digoreng, dibakar atau digeprek dengan sambal yang cukup pedas. 

Terlebih, jika disantap dengan nasi yang masih hangat, rasanya lebih nikmat lagi. Efeknya juga luar biasa, binatang ini diyakini mengandung protein tinggi, bahkan terdapat “kepercayaan” tertentu yang mengatakan bahwa mengkonsumsi belut dapat meningkatkan stamina dan vitalitas kaum lelaki.

Tapi tahukah kita bahwa belut ini pernah memantik perdebatan para ulama secara internasional yang kemudian mengangkat seorang Ulama Nusantara yang diperhitungkan dalam jagat per-ulama-an dunia?

Konon, jamaah haji asal Nusantara (saat itu belum populer dengan nama Indonesia) dikenal oleh masyarakat Arab sebagai pemakan ular. Bahkan tidak sedikit ulama sana yang menganggap rendah dan jijik terhadap jamaah haji kita dikarenakan suka makan sajian yang haram. 

Dalam benak mereka, mungkin, berbisik-bisik bahwa percuma saja ke tanah suci jika masih gemar memakan makanan haram karena belut disamakan dengan ular, yaitu binatang yang buas dan menjijikkan, dua alasan yang cukup untuk menetapkan status haram bagi binatang satu ini.

Stereotype (pandangan negatif), bahkan cibiran dan sindiran seperti inilah yang membuat seorang ulama Nusantara “berang.” Syeikh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi al-Makki, ulama yang juga pengajar di Mekkah ini tidak rela jika jamaah haji asal Nusantara mendapat tudingan seperti itu. 

Terlebih, beliau yang tidak asing dengan belut sangat tahu bahwa binatang tersebut sangat tidak identik dengan ular, meskipun memiliki raut yang relatif mirip.

Pada akhirnya, beliau menulis Kitab berjudul As-Shawa’iq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah fi Bayan Hal al-Balut wa ar-Raddu ala Man Harramahu (arti judul itu: Petir yang Membakar Imajinasi yang Menipu dalam menjelaskan Perkara Belut serta Menolak Pendapat yang Mengharamkannya). 

Di dalam kitab setebal 17 halaman inilah beliau menjelaskan secara gamblang mengenai sifat, jenis, klasifikasi, dan kebiasaan belut yang pada intinya tidak dapat disamakan dengan ular. Belut tidaklah buas dan juga tidak menjijikkan, sehingga illat hukum keharaman itu menjadi hilang. Dan belut hingga kini dianggap sebagai binatang yang halal.

Melalui Kitab ini pula akhirnya banyak mata masyarakat Arab, dan juga tidak sedikit jajaran ulama mereka yang membelalakkan mata, bukan hanya karena Nusantara memiliki ulama yang mendalam keilmu-agamaannya, melainkan juga tidak menduga bahwa binatang yang bernama belut itu tidak sebagaimana yang mereka bayangkan sebelumnya.

Kini, jika sore hari ini anda atau kita semua jalan-jalan ke pasar atau masuk ke rumah makan padang lalu memesan belut, jangan lupa berterima kasih kepada Syekh Mukhtar. Jika tidak ada beliau, mungkin sampai saat ini belut tetap haram dan hanya sekedar hiasan di sawah-sawah belaka. (MS)

Miftahus Surur, S. Ag.,M. SI


Pos terkait