Berduka, Warga Nahdliyin Lambar Gelar Sholat Ghoib

  • Whatsapp
Ketua PCNU Lambar H. M. Danang Hari Suseno

Medialampung.co.id – Duka cita melanda kaum Nahdliyin di Indonesia khususnya di Lampung Barat dengan wafatnya ulama kharismatik yang juga Mustasyar PBNU KH. Maimoen Zubair pimpinan Ponpes Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah yang meninggal di Makkah Al Mukaromah, saat menjalankan Ibadah Haji, Selasa (6/8).

H. M. Danang Harisuseno, S.Ag.MH selaku Ketua Tanfidziyah NU Lambar mengatakan, sesuai dengan surat PBNU No. 3625/C.I.34/08/2018 Perihal Instruksi, untuk melaksanakan Sholat Ghaib, Pembacaan Surat Yasin dan Tahlil baik di Masjid, mushola maupun pondok pesantren. Bersama para jamaah, sholat ghoib juga dilaksanakan di Masjid Baiturrahim komplek perkantoran pemda.

Bacaan Lainnya



“Pelaksanaan sholat ghoib, yasin dan tahlil akan dilaksanakan selesai sholat maghrib sampai menjelang isya yang digelar sampai hari Jumat dua hari kedepan,” ungkapnya.

Terusnya, ulama yang akrab disapa Mbah Moen ini merupakan salah satu dari anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) pada Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 lalu.

“Kiai Haji Maimoen Zubair merupakan seorang alim, faqih sekaligus muharrik (penggerak). Selama ini, Kiai Maimoen merupakan rujukan ulama Indonesia, dalam bidang fiqih. Hal ini, karena Kiai Maimoen menguasai secara mendalam ilmu fiqih dan ushul fiqih. Ia merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Danang, Kiai Maimoen lahir di Sarang, Rembang, pada 28 Oktober 1928. Kiai sepuh ini, mengasuh Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Maimoun merupakan putra dari Kiai Zubair, Sarang, seorang alim dan faqih. Kiai Zubair merupakan murid dari Syekh Saíd al-Yamani serta Syekh Hasan al-Yamani al-Makky.

“Kedalaman ilmu dari orang tuanya, menjadikan basis pendidikan agama Kiai Maimoen Zubair sangat kuat. Kemudian, ia meneruskan mengajinya di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim. Selain itu, selama di Lirboyo, ia juga mengaji kepada Kiai Mahrus Ali dan Kiai Marzuki,” jelasnya.

Kemudian, pada umur 21 tahun, Maimoen Zubair melanjutkan belajar ke Makkah Mukarromah. Perjalanan ini, didampingi oleh kakeknya sendiri, yakni Kiai Ahmad bin Syuáib. Di Makkah, Kiai Maimun Zubair mengaji kepada Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan beberapa ulama lainnya.

“Kiai Maimoen juga meluangkan waktunya untuk mengaji ke beberapa ulama di Jawa, di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lain. Kiai Maimun juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri. Di antaranya, kitab berjudul al-ulama al-mujaddidun,” paparnya.

Kemudian, selepas kembali dari tanah Hijaz dan mengaji dengan beberapa kiai, Kiai Maimoen kemudian mengabdikan diri untuk mengajar di Sarang, di tanah kelahirannya. Pada 1965, Kiai Maimoen kemudian istiqomah mengembangkan Pesantren al-Anwar Sarang. Pesantren ini, kemudian menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Selama hidupnya, Kiai Maimoen memiliki kiprah sebagai penggerak. Ia pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun. Selain itu, beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah. Kini, karena kedalaman ilmu dan kharismanya, Kiai Maimoen Zubair diangkat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Politik dalam diri Kiai Maimoen bukan tentang kepentingan sesaat, akan tetapi sebagai kontribusi untuk mendialogkan Islam dan kebangsaan. Kiai Maimun merupakan seorang faqih sekaligus muharrik dan pakar Ilmu Fiqh.,” imbuhnya. (nop)



Pos terkait