Cerita Anggota DPRD 14 Hari Ikut Usir Gajah, Puluhan Kali Bertemu, Sempat Berjarak Hanya 10 Meter

  • Whatsapp
Anggota DPRD Lambar Sugeng Hari Kinaryo Adi (kanan) saat ikut menghalau kawanan gajah liar

Medialampung.co.id – Sugeng Hari Kinaryo Adi, anggota DPRD Lampung Barat dari daerah pemilihan (Dapil) V meliputi Kecamatan Suoh dan Bandarnegeri Suoh, sudah 14 hari terakhir ikut merasakan teror gajah yang dialami oleh masyarakat, mulai di Pekon Hantatai hingga kini kawanan gajah bergeser ke wilayah Pekon Sukamarga.

Sugeng, yang merupakan anggota Fraksi PDI Perjuangan tersebut ikut bersama masyarakat mulai dari ronda, hingga melakukan blokade agar kawanan gajah tersebut bisa terus menjauh dari pemukiman penduduk dan kembali ke dalam habitat aslinya yakni Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Bacaan Lainnya

Selama 14 hari ikut bersama masyarakat tersebut, Sugeng mengaku banyak pengalaman yang ia rasakan, mulai dari bertemu langsung hingga berjarak hanya sekitar 10 meter saja, hingga suasana tegang bersama masyarakat akan teror satwa berbelalai tersebut ia rasakan.

”Selama 14 hari saya ikut bersama masyarakat dan Satgas melakukan ronda dan blockade sudah puluhan kali bertemu (dengan gajah), terakhir tadi pagi, saya bawa motor dan bertemu di jalan yang jaraknya hanya 10 meter saja, tetapi syukurnya kawanan gajah tersebut berbalik arah dan menjauh,” cerita Sugeng.

Anggota legislatif dua periode itu menampik jika ia ikut serta bersama masyarakat melakukan ronda dan blockade termasuk penggiringan bersama Satgas tersebut karena memiliki kelebihan berkomunikasi dengan gajah. Namun keikutsertaannya, karena rasa prihatinnya kepada masyarakat yang merasakan teror gajah secara terus menerus, yang telah berdampak besar terhadap perekonomian masyarakatnya.

”Jamannya bapak saya masih muda yang sekarang sudah almarhum, beliau paling berani juga mengusir gajah, dan itu menurun kepada saya, kalau ada teror gajah seperti ini saya tidak bisa tidur kalau hanya diam dirumah, karena itu saya bersama masyarakat siang maupun malam, paling tidak kehadiran saya bisa memberikan semangat kepada mereka,” lanjut Sugeng.

Terlebih lagi, kata dia, teror gajah yang terjadi di wilayah itu sejak tahun 2017 silam, dan masyarakat sudah jenuh dan capek, apalagi tidak adanya perhatian dari pihak-pihak lain, paling tidak datang dan memberikan semangat.

”Karena itu saya hadir di tengah mereka, memberikan semangat kepada mereka, paling tidak rasa jenuh dan capek karena berkonflik dengan gajah sejak tahun 2017 lalu, bisa kembali berubah menjadi semangat,” imbuhnya.

Untuk diketahui, kawanan gajah yang meneror warga Sukamarga tersebut terpecah menjadi dua kelompok, untuk satu kelompok berjumlah delapan ekor hanya berjarak 400 meter dari areal persawahan penduduk, sementara satu kelompok lainnya sebanyak Sembilan ekor telah menjauh. Satgas bersama masyarakat termasuk aparat pemerintah terus melakukan berbagai upaya penggiringan namun hingga saat ini belum membuahkan hasil. (nop/mlo)


Pos terkait