Dalang Kericuhan Pleno KPUD Pesbar Terancam Penjara Enam Tahun 

  • Whatsapp
Kasat Reskrim Polres Lambar AKP Made Silpa Yudiawan, SIK

Medialampung.co.id – Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Lampung Barat, resmi menetapkan YP sebagai tersangka dalam kericuhan pada pelaksanaan rapat pleno penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Pesisir Barat, yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Pesbar di Gedung Serbaguna Selalaw, Labuhan Jukung, Kecamatan Pesisir Tengah Selasa (15/12) lalu.

Kasatreskrim Polres Lambar AKP Made Silpa Yudiawan, S.Ik., mendampingi Kapolres AKBP Rachmat Tri Haryadi, SIK, M.H., mengatakan, sebelumnya ada delapan orang yang diamankan usai terjadinya kericuhan yang berbuah aksi anarkis pelemparan batu oleh massa, namun, satu orang ditetapkan sebagai tersangka.

Bacaan Lainnya


”Iya, sebelumnya ada delapan orang yang diamankan, namun dari hasil pemeriksaan oleh penyidik dan gelar perkara yang dilakukan, satu orang yang ditetapkan tersangka, sementara lainnya masih berstatus saksi,” ungkap Made.

Hanya saja, meskipun saat ini masih berstatus saksi, jika dalam perjalanan pemeriksaan nantinya memenuhi dua alat bukti termasuk ketika nantinya ada pihak lain yang terlibat dalam kericuhan tersebut maka akan diproses oleh penyidik bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi tersangka.

”Pada artinya untuk proses penyidikannya terus berjalan, penyidik kami terus melakukan pendalaman-pendalaman, dan meskipun saat ini baru satu orang tersangka tidak menutup kemungkinan akan bertambah,” kata dia.

Ia menambahkan, untuk tersangka dijerat pasal 160 KUHPidana tentang penghasutan dengan ancaman enam tahun penjara atau pasal 212 KUHPidana tentang melawan petugas dengan penjara satu tahun.

Seperti diketahui, diduga ratusan pendukung salah satu pasangan calon berbuat kericuhan saat rapat pleno terbuka KPUD Pesbar. 

Kerusuhan itu berawal saat pleno penghitungan suara tingkat kabupaten sedang dilakukan. Saat memasuki istirahat, sejumlah warga yang berada di luar melempari gedung dengan benda dan berkerumun di depan gedung tersebut. Rapat pleno sedang istirahat, sedangkan massa di luar gedung sudah banyak, sehingga terjadi tindakan anarkistis. (nop/mlo)


Pos terkait