Derita Skoliosis, Dini Andani Butuh Uluran Tangan Untuk Biaya Operasi

Medialampung.co.id – Dini Andani (12) salah satu pelajar di SMPN 16 Krui, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar), dari keluarga kurang mampu itu harus menanggung beban akibat penyakit yang dideritanya. Sehingga, dirinya harus menjalani operasi di Rumah Sakit.

Pendamping Rehabilitasi Sosial Kabupaten Pesisir Barat, Helmi Fauzi, mengatakan, Dini Andani merupakan anak tertua dari tiga bersaudara pasangan Kailani dan Leni Marlina. Ayahnya merupakan sopir di Provinsi Jambi yang hanya bisa pulang tiga bulan sekali ke rumah. Sedangkan ibunya yakni Leni Marlina hanya seorang ibu rumah tangga yang masih mengasuh anak bungsunya yang baru berusia dua bulan.

Bacaan Lainnya


“Saat didatangi di kediamannya di Pekon Padang Haluan, Kecamatan Krui Selatan, kondisi tubuh Dini Andani terlihat begitu kurus dan ada benjolan di bagian tulang belakangnya,” kata dia, Kamis (9/12).

Dijelaskannya, menurut keterangan dari orang tuanya bahwa Dini Andani sebelumnya pernah melakukan pengecekan ke Rumah Sakot Urip Sumohardjo, Bandar Lampung. Dari hasil pengukuran tersebut, dokter menyatakan yang bersangkutan itu menderita penyakit pembengkokan tulang atau tumbuhnya tulang tidak pada tempatnya.

“Karena penyakit yang dideritanya itu, Dini Andani kerap merasa kesakitan saat hendak tidur dan aktivitas lainnya sebagai seorang pelajar tersebut,” jelasnya.

Menurut Helmi, untuk menjalani operasi, tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara, kondisi perekonomian keluarganya masih sangat kekurangan. Karena itu pihaknya mengharapkan adanya uluran tangan para dermawan untuk membantu Dini Andani dalam menjalani operasinya nanti yang direncanakan di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.

“Bagi para dermawan yang ingin meringankan beban keluarga Dini Andani bisa menghubungi Leni Marlina pada nomor 085769774166 dan 085273333133. Jika ingin berdonasi bisa mengirimkan ke nomor rekening 0659-01-039076-53-1, BRI Unit Krui atas nama Kailani,” ujarnya.

Sementara itu, Leni Marlina, mengaku putri pertamanya itu divonis menderita penyakit langka yakni Skoliosis. Bahkan, dokter menyarankan agar segera dioperasi sebelum akhir bulan ini atau sebelum tanggal 31 Desember 2021 harus sudah menjalani operasi. Karena, jika tidak segera dioperasi dapat menyebabkan kelumpuhan.

“Kami berharap, anak saya bisa segera dioperasi. Mudah-mudahan ada para dermawan yang ikhlas membantu keluarga kami,” kata dia.

Dijelaskannya, operasi pada bagian tulang belakang putrinya itu hanya bisa dilakukan di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Sedangkan, untuk di Rumah Sakit yang ada di Lampung ini maupun Rumah Sakit lainnya masih belum lengkap fasilitas dan juga tenaga kesehatannya seperti tenaga dokter spesialis, dan sebagainya.

“Yang paling lengkap untuk menjalani operasi anak saya ini hanya ada di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta,” jelasnya.

Diakuinya, putri sulungnya harus dibawa ke Jakarta untuk menjalani operasi tersebut. Sebelumnya, pihak keluarganya telah berkonsultasi ke Rumah Sakit Urip Sumohardjo, mengenai biaya operasi putrinya, dan mencapai ratusan juta. Karena keluarganya memiliki kartu PBI-JK atau BPJS Kesehatan kelas III, maka biaya operasi itu bisa ditanggung pihak Rumah Sakit Fatmawati.

“Tapi, untuk biaya transportasi, beli obat-obatan dan biaya hidup saat mendampingi anak saya bersama keluarga selama di Rumah Sakit nanti, saya tidak punya apa-apa lagi,” katanya.

Bahkan, kata dia, dari pihak Rumah Sakit untuk biaya kebutuhan disana bisa mencapai Rp20 juta-an. Tentu ini menjadi kendala bagi keluarganya. Terlebih suaminya yang seorang supir juga hanya memiliki penghasilan yang pas-pasan dan hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Kami berharap ada bantuan dari para dermawan atau donatur agar anak saya ini bisa segera dioperasi,” ujarnya.

Ditambahkannya, untuk alternatif lain pengobatan anaknya tidak bisa dilakukan, kecuali dioperasi. Karena pertumbuhan tulang Dini Andani sudah lebih dari 60 persen. Karena itu, pada tanggal 20 Desember 2021 mendatang, putrinya itu harus kembali ke Rumah Sakit Urip Sumohardjo untuk menentukan jadi tidaknya dirujuk dan dioperasi di Rumah Sakit Fatmawati.

“Saat ini kami tidak memiliki biaya lagi, dan hanya menunggu ada uluran tangan dari para dermawan dan Pemkab Pesbar,” tandasnya.(yan/d1n/mlo)


Pos terkait