Dianggap Melanggar Prokes, Wahana Bermain di Taman Gajah Ditutup Paksa

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Pelaku usaha wahana bermain anak di area Taman Gajah mengeluhkan penutupan usaha mereka yang dilakukan oleh tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kota Bandarlampung.

Para pelaku usaha tersebut antara lain penyewaan rental mobil-mobilan anak, Styrofoam lukisan, komedi putar, kora-kora, dan kolam pancing mainan anak.

Bacaan Lainnya


Pemilik wahana komedi putar dan kora-kora, Citra (33) yang tinggal di area Taman Gajah ini mengatakan penutupan itu dilakukan oleh anggota tim gugus tugas yang memaksa para pedagang untuk menandatangani surat teguran pelanggaran protokol kesehatan. 

Pasalnya, mereka sudah mengantongi izin usaha dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung dengan No.028/01/V.20/Sek.I/III/2021. Dan saat penutupan, sempat bersitegang sampai petugas gugus tugas ingin menyegel usaha mereka dan tentu saja mereka tidak terima.

“Pada tanggal 23 Maret 2021 kami didatangi oleh gugus tugas. Posisinya jam 21.00 WIB, kami sudah tutup, dan mereka memaksa kami membuka wahana dan menyuruh saya menghidupkan lampu kincir angin, dan meminta saya menunjukkan surat izin, ketika saya tunjukan surat izin dari Dinas Pariwisata petugas tidak percaya dan mengatakan surat izin itu palsu dan petugas meminta saya menandatangani surat teguran pelanggaran prokes,” ungkapnya.

Menurut ibu dua orang anak ini, penandatanganan surat teguran prokes itu tidak sesuai dengan kenyataan, dia merasa difitnah. Dia berdalih bahwa pemilik usaha wahana bermain anak di area Taman Gajah ini sudah menjalankan protokol kesehatan.

“Kami sudah menerapkan prokes, kami sediakan hand sanitizer, di pintu masuk juga dijaga oleh Satpol PP, bahkan ada pula yang menggunakan termogram, jam 21.00 WIB kami sudah tutup. Kami merasa difitnah, kami dibilang mengundang keramaian dan tidak mengindahkan peraturan walikota terkait jam operasional usaha, wahana kami pun ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan padahal saya harus menghidupi keluarga dan 15 pegawai saya terpaksa saya liburkan,” paparnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh pemilik rental mobil remot anak-anak, Andi mengatakan barusan usahanya di datangi tim gugus tugas.

“Besok saya sudah tidak boleh beroperasi lagi disini. Waktu ini dikelola pemprov kami diperbolehkan membuka usaha disini, dan tidak ada masalah,” ujar dia.

Selain itu, pemilik wahana Styrofoam lukisan, Imel menjelaskan dengan ditutupnya usaha mereka ini sangat berdampak dalam menjalani kehidupannya, terutama dalam mencukupi kebutuhan ekonomi mereka sebagai rakyat kecil.

“Semenjak usaha ditutup saya benar-benar tidak ada pemasukan. Pernah satu hari saya dan anak-anak tidak makan, karena memang gak pegang uang sama sekali. Untuk makan saja saya harus menunggunya suami saya pulang terlebih dahulu,” keluhnya.

Mereka berharap semoga pemerintah juga memikirkan para pelaku usaha wahana mainan anak ini, apalagi memang tugas pemerintah untuk melindungi dan mengayomi masyarakatnya.

“Harapan kami, ada solusi terbaik untuk kami dari pemerintah terkait adanya penutupan bagi usaha kami yang waktunya pun belum jelas sampai kapan. Kami disini hanya mencari makan, jadi tolong perhatikan kami,” tutupnya.(*/mlo)




Pos terkait