Diduga Depresi Gagal Menikah, Seorang Warga Banyu Urip Kerap Mengamuk

  • Whatsapp

Medialampung.co.id  –  Diduga depresi karena gagal menikah dan tidak kuat menganut ilmu kebal, Rohman Jaya seorang yatim piatu yang merupakan salah satu warga Banyu Urip dan tinggal sebatang kara di kediamannya, kini  sering mengamuk serta mengganggu kenyamanan masyarakat setempat.

Rohman Jaya yang merupakan warga Jalan Banyu Urip, Lingkungan 5 (lima), RT 004, RW 010, Kelurahan Sribasuki, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara, kini tinggal sebatang kara di kediamannya.

Bacaan Lainnya


Menurut Kabul, salah satu tetangga warga setempat menjelaskan, Rohman sering kali mengamuk, dan menghancurkan benda-benda yang berada di sekitarnya. Tidak hanya itu, ia juga sering kali mengganggu kenyamanan masyarakat setempat, dengan teriakan-teriakan yang ia lontarkan disaat rasa depresi tersebut timbul.

“Kalau dibilang gila sih enggak ya tapi ngeblank aja, depresi gitu, jadi tinggal sendiri dan kadang ngamuk, kadang teriak-teriak, kita sebagai tetangga ya kadang merasa terganggu dan hati-hati juga,” kata Kabul, Minggu (7/3).

Saat dimintai keterangan via telepon, Nurul Anwar yang merupakan adik ipar dari Rohman tersebut menjelaskan bahwa, Rohman mengalami depresi sejak tahun 2017 yang diduga akibat gagal menikah karena tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya.

Nurul Anwar juga menjelaskan, semenjak mengalami depresi, Rohman sering kali mengganggu warga sekitar, bahkan tidak jarang melakukan tindakan kekerasan. Bahkan baru-baru ini Rohman melakukan tindakan yang cukup anarkis, dengan mencoba menghancurkan gereja yang berada di sekitar kediamannya tersebut.

Tidak hanya itu, bahkan ia menghancurkan tembok rumahnya yang kini menjadi tempat tinggalnya tersebut. ”Waktu itu pernah didatangi polisi kita bingung kenapa, ternyata dia sudah nimpukin batu ke gereja, katanya dia mau menghancurkan gereja itu, bahkan tembok rumah juga dihancurkannya,” jelas Nurul Anwar.

Sebelumnya, pihak keluarga pernah melakukan pengobatan rutin terhadap Rohman ke Puskesmas terdekat, namun pihak Puskesmas menyarankan untuk melakukan pengobatan ke Rumah Sakit Jiwa ataupun rehabilitasi kejiwaan, untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada Rohman.

Namun, saat hendak dibawa untuk pengobatan atau rehabilitasi, Rohman kembali mengamuk dengan melakukan tindakan menyakiti orang disekitarnya. Bahkan Nurul Anwar mengatakan bahwa Rohman pernah menyakiti anak dari adiknya tersebut sampai mengalami cedera pada kakinya.

“Dia itu bahkan pernah memukul anak saya sampek terkencot-kencot, maka kami tinggalkan, karena kami takut sama dia kalau dia ngamuk lagi gimana,” katanya.

Kini Rahman yang tinggal sebatang kara tersebut, mendapatkan makanan dari seorang kakek tua renta yang merupakan penderes getah karet milik orangtua Rohman.

Kakek yang bernama Nuri tersebut bekerja sebagai penderes getah karet yang merupakan warisan dari kedua orangtua Rohman. Nuri menjelaskan hasil dari penjualan getah karet tersebut dibagi dua dengan Rohman untuk memenuhi kebutuhannya, namun kakek Nuri juga setiap harinya memberikan makanan kepada Rohman karena rasa ibanya tersebut tanpa rasa takut untuk mendekatinya.

“Kalau makan saya sering kasih karena dia nggak punya beras, dan kadang enggak masak jadi saya yang sering kasih makan sama rokok,” kata kakek Nuri.

Tidak hanya itu, rumah Rohman yang amat gelap tanpa cahaya lampu listrik tersebut, kini telah digantikan oleh kakek Nuri dengan lampu tempel yang terbuat dari kaleng bekas dengan bahan bakar minyak tanah sebagai penerang rumah Rohman saat malam hari.

Kini keluarga Rohman dan warga setempat mengharapkan adanya uluran bantuan pemerintah setempat untuk membantu rehabilitasi kejiwaan Rohman, agar tidak lagi mengalami depresi yang dapat mengganggu dan menyakiti orang lain. (adk/ozy/mlo)




Pos terkait