Disbunnak Ajak Petani Kopi Lakukan Penanaman Model Konservasi

  • Whatsapp
Kepala Disbunnak Lambar Ir. Nata Djudin Amran

Medialampung.co.id – Petani kopi di Kabupaten Lambar khususnya yang melakukan penanaman di lahan miring diimbau agar sejak dini mulai melakukan pola tanam yang mengikuti kaidah-kaidah konservasi dan secara berkelanjutan.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Lambar Ir. Nata Djudin Amran di Ruang Kerjanya, Selasa (16/3)

Bacaan Lainnya

Nata mengatakan, kondisi alam yang demikian jika tidak segera diantisipasi sejak dini dengan melakukan pola tanam yang mengikuti model/sistem konservasi dan berkelanjutan maka dikhawatirkan akan berdampak pada masa generasi mendatang. 

“Apabila tidak segera diantisipasi sejak sekarang maka dikhawatirkan kondisi lahan perkebunan dan pertanian di Kabupaten Lampung Barat  akan menjadi rusak dan tidak bisa menghasilkan lagi karena sudah gundul dan berpasir, serta tidak subur,” katanya

Terlebih saat ini, kata Nata, cuaca di daerah ini yang  sering tidak menentu, terkadang panas dan terkadang hujan dan angin, kondisi itu tentu akan mempengaruhi tanaman terutama untuk lahan miring.

“Kalau tidak mengikuti kaidah-kaidah konservasi itu maka suatu saat lahan yang berada pada daerah miring itu akan menjadi gundul karena tanah sering tergerus. Bahkan dikhawatirkan terjadi longsor,” tegas dia.

Menurut dia, kondisi lahan perkebunan di daerah miring itu akan bertahan dengan baik dan tanaman juga akan menghasilkan dengan maksimal apabila pengolahan lahan dilakukan dengan model konservasi. Pola budidaya model konservasi yakni dilaksanakan dengan cara pembuatan teras-teras dan pola-pola tanaman.

“Tujuannya agar ketika hujan datang maka air tidak bisa langsung turun dengan cepat yang dapat mengakibatkan tanah tergerus namun air akan bertahan pada teras tanaman lalu terserap dengan sendirinya,” katanya

Selain itu, lanjut di, di teras-teras tanaman itu petani juga bisa memanfaatkanya untuk menanam tanaman sebagai sumber pakan ternak, seperti menanam rumput rumputan dan hasilnya bisa digunakan untuk makanan ternak dan kotoran ternak nantinya juga bisa dijadikan pupuk organik.

Hal ini untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia karena penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dan terus menerus berdampak tidak baik untuk struktur tanah dan kesuburan tanah.

“Budidaya tanaman perkebunan pada tanah miring ini, selain petani berkebun juga bisa beternak dengan memanfaatkan teras tanamannya untuk ditanami dengan pakan ternak,” kata dia.

Lebih jauh Nata mengatakan, di Kabupaten Lambar yang menerapkan model konservasi dan berkelanjutan ini sudah ada tapi masih sedikit yaitu di Pekon Batukebayan Kecamatan Batuketulis.

“Di daerah Batukebayan sudah ada petani  yang menerapkan model konservasi dan berkelanjutan ini, dan hasil kopinya terbukti meningkat yaitu ada yang mencapai 2 ton per hektar. Ini perlu dicontoh petani lainnya yang tanaman perkebunannya pada tanah miring,” bebernya

Seraya menambahkan, hasil produktivitas kopi di Kabupaten Lambar hingga saat ini rata-rata masih 1,2 ton/Ha. Ada beberapa wilayah tertentu yang hasilnya mencapai 3-4 ton/ha khususnya untuk daerah yang datar. Sedangkan lahan di daerah miring produksinya masih rendah, sehingga pihaknya mengajak petani kopi untuk melakukan tanam model konservasi dan berkelanjutan. (lus/mlo)


Pos terkait