Disbunnak-BI Gelar FGD Analisis Efisiensi Rantai Nilai Perkebunan Kopi

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Lambar bekerjasama dengan Bank Indonesia Perwakilan Lampung dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)  Cabang Lampung, menggelar Focus Group Discussion (FGD) “Analisis Efisiensi Rantai Nilai Perkebunan Kopi di Provinsi Lampung” di Pusat Penyuluhan dan Pengembangan Kopi (P3K) AEKI Lampung, Pekon Hanakau Kecamatan Sukau, Kamis (3/10).

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Kepala Disbunak kabupaten Lambar Agustanto Basmar, S.P, M.Si, Perwakilan dari AEKI Lampung Muchtar Luthfie, SH.,M.M., serta dihadiri Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (bappeda), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), kelompok tani, PPL dan pedagang pengumpul kopi, serta undangan lainnya.

Bacaan Lainnya



“Tujuan acara ini adalah pemetaan rantai nilai tata niaga kopi di Provinsi Lampung. Diharapkan hasil survai ini menjadi dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan fiskal terkait ekspor kopi,” ungkap Kepala Disbunnak Lambar Agustanto Basmar, S.P, M.Si, Kamis (3/10).

Pada pertemuan itu, Agustanto menyampaikan materi tentang strategi peningkatan produksi, mutu dan pendapatan petani kopi di Kabupaten Lambar. Untuk strategi peningkatan produksi, ditargetkan produksi kopi petani 2 ton/hektar dan untuk mencapi target tersebut pemerintah daerah menggulirkan sejumlah program seperti rehabilitasi/penggunaan bibit bermutu melalui kebun induk, kemudian intensifikasi/GAP melalui bantuan pupuk, dan konservasi lahan melalui kempung konservasi.

Kemudian untuk meningkatkan mutu kopi minimal grade 3, lanjut dia, petani disarankan untuk penanganan pasca panen dengan melakukan petik merah buah kopi, lalu kegiatan SLPHT kopi guna pengendalian PBKo dan pengadaan sapras salah satunya melakukan penjemuran di terpal  dan penurunan kadar air. “Untuk meningkatkan nilai tambah dan pasar, kita melaksanakan promosi melalui kegiatan festival kopi, selain itu ada pelatihan barista, sekolah kopi dan pameran serta menjalin kemitraan dengan eksportir,” ucap dia seraya menambahkan, dalam rangka peningkatan sumberdaya manusia (SDM) petani, pihaknya juga melakasanakan pelatihan dan studi banding, serta kerjasama dengan OPD lain/swasta.

Pihaknya berharap petani dan pedagang pengumpul dapat bersinergi dalam pemasaran kopi agar terjadi profit sharing atau berbagi keuntungan yang adil antara petani dan pedagang. “Kita berharap dengan dipahaminya rantai nilai tata niaga ini, kita semakin tahu sebenarnya langkah-langkah apa yang akan dilakukan agar petani tidak dirugikan dan pedagang juga diuntungkan. Karena kalau petani rugi maka akan mempengaruhi pendapatan mereka, begitu juga dengan para pedagang,” tandasnya. (lus/mlo)



Pos terkait