Disdikbud Lambar Gelar Kegiatan Kemah Terpadu Arkeologi

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Dalam rangka menumbuhkan kecintaan terhadap warisan arkeologi secara langsung kepada publik, khususnya pelajar maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lambar melaksanakan kegiatan kemah terpadu arkeologi di SMPN 1 Kebutebu, Selasa-Kamis (24-26/11)

Kegiatan kemah terpadu arkeologi tersebut secara resmi dibuka oleh Sekretaris Disdikbud Ahmad Syukri, S.Pd dan dihadiri Kabid Kebudayaan Disdikbud Riadi Andrianto, S.H, Arkeolog Provinsi Lampung Oki Laksito, Juru Pelihara Situs Megalitik Batu Berak Eko Harmono, serta 60 pelajar. 

“Kegiatan kemah arkeologi bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi tentang cagar budaya serta ilmu kepramukaan kepada pelajar SMP,” ujar Kabid Kebudayaan Riadi Andrianto, S.H mendampingi Kepala Disdikbud Lambar Hi. Bulki Basri, S.Pd, M.M, Kamis (26/11) 

Masih kata dia, kemah tersebut melibatkan 60 pelajar dari empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kebuntebu, Kecamatan Airhitam, Kecamatan Gedungsurian dan Kecamatan Sumberjaya.

Menurut dia, pemahaman dan pengetahuan akan sejarah sangat penting untuk memupuk dan memperkuat jati diri bangsa serta meningkatkan kebanggaaan akan warisan budaya bangsa. Untuk itu diperlukan sebuah kegiatan yang dapat memberikan kesempatan untuk dapat menyelami, memahami, dan berkenalan secara langsung dengan “dunia arkeologi”. 

Lanjut dia, kemah arkeologi yang berdimensi ilmiah dan rekreatif (edutainment). Dimensi ilmiah menyangkut berbagai materi yang disampaikan oleh peneliti dan praktisi arkeologi mengenai dasar-dasar dari ilmu arkeologi dan pelestarian. Sedangkan rekreatif dikembangkan dalam bentuk field trip atau kunjungan wisata ke situs arkeologi, games, dan roleplay.

“Kemah Arkeologi pada intinya mengadopsi spirit kebersamaan yang ada pada kegiatan berkemah dengan muatan arkeologi yang disesuaikan untuk kalangan pelajar,” imbuhnya.

Lebih jauh Riadi mengatakan, kemah arkeologi lebih menitikberatkan pada apresiasi terhadap warisan arkeologi (material culture), pengembangan kemampuan mendayagunakan pengetahuan dasar melalui permainan/games dan ceramah singkat. Untuk menunjang kegiatan dilakukan kunjungan situs dan diskusi antar peserta serta permainan berkelompok (role-play).

“Peserta diarahkan untuk melakukan eksplorasi dan ekskursi serta didorong untuk membuat simpulan-simpulan/solusi mengenai permasalahan-permasalahan tinggalan budaya/arkeologis di sekitar mereka,” tandasnya (lus/mlo)


Pos terkait