Diskusikan Soal Kopi, Mukhlis Basri Temu Lapang dengan Petani 

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Anggota Komisi 1 DPR RI Mukhlis Basri menggelar temu lapang dengan petani kopi, Kelompok Wanita Tani (KWT) serta Anggota Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Pekon Kembahang, Kecamatan Batubrak, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (23/7).

Dalam pertemuan itu, Mukhlis Basri yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kopi (Dekopi) Provinsi Lampung itu memberikan motivasi kepada petani agar senantiasa meningkatkan mutu dan kualitas biji kopi, sebagai komoditas unggulan di Bumi Beguai Jejama Sai betik ini.

Bacaan Lainnya



“Melalui kegiatan ini, saya berharap petani kopi di Lambar tidak terus menjadi petani kopi tradisional, akan tetapi harus menjadi petani modern dalam arti mengetahui setiap perkembangan teknologi yang ada. Itu yang menjadi harapan besar kita semua,” ujar MB—sapaan Mukhlis Basri.

Sebab, ia menilai bahwa sebagian besar petani kopi di Lambar masih menerapkan pola tanam tradisional atau meneruskan sistem perawatan tanaman yang diturunkan dari generasi sebelumnya, sehingga menurunnya harus ada inovasi–inovasi untuk memperbaiki pola tanam tersebut.

“Polanya banyak, seperti melakukan stek atau perkawinan silang antara klon atau jenis A dengan jenis B, begitu juga dengan proses perawatan dan pengolahan lahan yang harus dilakukan secara modern supaya hasilnya betul-betul maksimal,” harapnya. 

Kendati begitu, ia tidak menampik bahwa peningkatan mutu dan produksi kopi yang dihasilkan petani Lambar bukan hanya di titik tumpukan pada petani saja, akan tetapi menjadi tanggungjawab bersama mulai dari unsur pemerintah, tenaga penyuluh, KTNA atau pihak-pihak berkompeten lainnya dengan melakukan upaya sosialisasi dan edukasi kepada para petani tentang tata cara pengolahan.

“Meski sebagian besar petani masih menerapkan pola tanam tradisional, namun di beberapa wilayah di Lambar ini sudah ada perkebunan kopi yang memiliki hasil yang maksimal seperti di Pekon Kembahang milik Hi. Safrudin ini, dari per hektar atau sebanyak 2500 batang dapat menghasilkan 3 hingga 4 ton, tentu ini harus menjadi contoh dan tempat belajar petani kopi lainnya,” tuturnya.

Untuk itu ia berharap petani yang telah menghasilkan mutu dan produksi yang baik dapat berbagi ilmu kepada petani lainnya. Karena untuk meningkatkan mutu kopi, juga membutuhkan peran semua pihak baik dari pihak swasta, eksportir dan industri pengolahan kopi, tak terkecuali dari luar daerah sekalipun. 

“Oleh Karena itu kita juga harus menyadari pentingnya campur tangan pihak luar termasuk swasta dan industri pengolahan kopi berskala besar lainnya dalam rangka meningkatkan kualitas tersebut,” imbuhnya

Disisi lain, kata dia, selain terus mendorong petani sebagai pemeran utama untuk menghasilkan kopi yang berkualitas, ia juga mengajak semua pihak untuk melakukan langkah-langkah terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas hingga promosi yang intensif untuk lebih mengenalkan Lampung khususnya Lampung Barat sebagai Surganya Penikmat Kopi.

”Untuk menjadikan Kopi Lampung mendunia tentu diperlukan dukungan semua pihak baik pemerintah pusat, provinsi, pengusaha, masyarakat peduli kopi dan semua pihak terkait. Selama ini pemerintah mulai dari pusat, provinsi maupun daerah sangat mendukung upaya pengembangan kopi robusta di Lampung Barat ini dan in juga harus kita sambut dengan baik,” pungkasnya. (edi/mlo)



Pos terkait