DPRD Lambar Akan Tinjau Kerusakan Fasilitas Curup Ciptamulya

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Desakan banyak pihak yang meminta dilakukannya uji kualitas terhadap pembangunan fasilitas wisata air terjun (curup) Pekon Ciptamulya, Kecamatan Kebuntebu, Kabupaten Lampung Barat (Lambar) lokasi Hutan Kemasyarakatan (HKm) Abung Jaya Register 45B yang dibangun pertengahan 2019 mendapatkan dukungan dari DPRD Lambar.

Anggota Komisi II DPRD Lambar yang juga membidangi masalah hutan dari Fraksi PAN H.Herwan, menyayangkan jika memang fasilitas wisata yang usianya masih muda sudah ambruk. 

Bacaan Lainnya

“Kita sayangkan jika fasilitas bangunan tersebut rusak baru usia Dua tahun lebih. Sebab pemerintah membangunnya tentunya untuk memberikan kenyamanan pengunjung saat berkunjung di air terjun itu,” terangnya.

Dan terkait kerusakan itu Herwan memastikan akan menelusuri lebih jauh bangunan tersebut, dari mana asalnya, berapa anggarannya dan siapa pelaksananya. 

Hal itu sebagai langkah awal untuk mencari apa yang menjadi penyebab kerusakan, apa benar karena kurang baiknya Kualitas bangunan atau ada penyebab lain.

Herwan juga menyebutkan pihaknya akan mengajak anggota DPRD dari wilayah itu mengkroscek lokasi. 

“Juli mendatang kami ada agenda reses, dan saat itu saya akan koordinasi dengan anggota DPRD Lainnya khususnya Komisi II yang membidangi kehutanan tinjau lokasi sebagai dasar menjembatani permintaan kawan-kawan,” tegas politisi PAN tersebut.

Sebelumnya Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa (FKPPM) Sumberjaya menyebutkan perlu diberikan uji Kualitas bangunan fasilitas Curup Ciptamulya. 

Koordinator FKPPM Anton Hilman, S.Si.,mengatakan sangat tidak masuk akal jika bangunan gazebo tersebut ambruk karena faktor cuaca. 

“Kita lihat banyak sekali gazebo bahkan banyak pos ronda masyarakat terbuat dari bahan kayu yang usianya sudah puluhan tahun masih bertahan. karena itu untuk pembuktian penyebabnya sebaiknya dilakukan uji kelayakan, bahkan jika memang bisa meminta pendapat ahli Unila tentang Kualitas kayu yang digunakan,” ungkap Alumnus Unila tersebut.

Berdasarkan informasi dari sumber yang dapat dipertanggung jawabkan, Proyek wisata tersebut dari awal pengerjaan terkesan proyek siluman, karena tidak adanya koordinasi dari pelaksana kegiatan atau petugas berkompeten pemerintah, kepada pihak pekon maupun Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat (r1n/mlo)




Pos terkait