Dua Penyu Sisik Ditemukan Mati di Pantai Laut Krui

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Dua ekor Penyu Sisik atau Eretmochelys Imbricata ditemukan mati di dua tempat berbeda di Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar), satu ekor ditemukan di pantai Labuhan Jukung dan Pantai Way Redak, Kecamatan Pesisir Tengah.

Tidak diketahui penyebab matinya satwa laut yang dilindungi itu, tapi sejak beberapa hari terakhir kondisi cuaca di perairan laut Kabupaten Pesbar sedang tidak bersahabat. Angin kencang terjadi yang mengakibatkan gelombang tinggi.

Bacaan Lainnya

Kabid Perikanan Tangkap, Bambang Supeno, A. Pi., mendampingi Kadis Perikanan Pesbar, Armen Qodar, S.P., mengaku pihaknya belum mengetahui ada penyu yang ditemukan mati di Pantai Labuhan Jukung dan Pantai Way Redak tersebut.

“Kami belum tahu penyebabnya apa, selama ini belum pernah ada laporan penyu yang mati dan terdampar di pantai, kita mungkin akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) terkait kejadian itu,” kata dia.

Menurutnya, matinya penyu tersebut bisa diakibatkan oleh faktor alam ataupun ulah manusia, dimana sekarang ini banyak ditemukan penyu yang mati karena terjerat tali masker yang dibuang sembarangan oleh masyarakat.

“Penggunaan masker yang meningkat sekarang ini memang berdampak pada matinya sejumlah hewan, seperti burung dan penyu yang ada dilaut, masker yang dibuang begitu saja dan sampai ke laut akan menjerat penyu dan hewan laut lainnya,” jelasnya.

Dikatakannya, jika masyarakat menemukan penyu dalam kondisi hidup atau mati terdampar di pantai, dihimbau agar tidak diambil dan dijadikan koleksi karena penyu merupakan satwa langka yang dilindungi.

“Kita harap jika ada penyu yang mati seperti itu bisa menghubungi dinas perikanan, atau menguburkan bangkai penyu tersebut, jangan sampai dibawa pulang dan menjadi bahan koleksi,” terangnya.

Ditambahkannya, semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Hal ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati, maupun bagian tubuhnya itu dilarang.

“Sedangkan menurut Undang Undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pelaku perdagangan baik itu penjual atau pembeli satwa dilindungi seperti penyu itu dapat dikenakan hukuman penjara lima tahun dan denda Rp 100 juta,” pungkasnya. (ygi/d1n/mlo)

Pos terkait