Dukung Program Kabupaten Konservasi, Para Da’i Bentuk Forum

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Sebagai bentuk dukungan program Kabupaten Konservasi di Kabupaten Lampung Barat, sejumlah da’i membentuk forum gerakan Da’i Peduli Konservasi pekon seperti di Pekon Tebaliokh, Kecamatan Batubrak.   

Ustad Alif Makluf selaku pencetus forum tersebut, menyatakan pembentukan gerakan da’i konservasi itu bermula dari pelatihan yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia bekerjasama dengan Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI-UNAS) Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia (LPLHSDA-MUI) di tahun 2016 lalu.

Bacaan Lainnya


“Tujuannya adalah untuk melibatkan para da’i terlibat dalam upaya pelestarian dan perlindungan alam dan mengatasi berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Lambar, seperti pembalakan kayu, perburuan dan perdagangan haram satwa liar yang dilindungi, ataupun kebakaran hutan,” ungkapnya.

Dari pelatihan itu, terusnya, muncul kesadaran bahwa kegiatan konservasi sangat mendukung keberlangsungan kehidupan manusia,sehingga mengajarkan untuk bersikap bijak dalam mengelola alam seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh manusia hingga anak cucu kelak.

“Setelah pelatihan itu saya kemudian mencari sejumlah referensi bagaimana menyiapkan bahan-bahan untuk ceramah mengenai konservasi. Sayangnya, kebanyakan buku-buku yang saya bacanya masih sulit untuk dicerna oleh kalangan da’i dan masyarakat di desa, dan belum menyentuh persoalan yang ada di lapangan,” jelasnya

Sehingga dirinya pun mencoba ‘meramu’ berbagai bacaanya dan berkait dukungan dan masukan dari berbagai pihak, dirinya kemudian menerbitkan buku dengan judul ‘Konservasi, Murni Ajaran Islam’ pada Maret 2020. Buku ini kemudian dicetak dan disebarkan kepada para da’i.

“Bersama dengan rekan-rekan  alumni pelatihan dai konservasi saya kemudian membuat gerakan da’i konservasi dengan membentuk kepengurusan dai konservasi beserta wilayah kegiatan dakwahnya. Saat ini di Lambar dan pesisir barat telah terbentuk pengurus da’i konservasi seperti di Lambar ada di pekon Sukamarga, Bumi Hantatai dan Teba Liokh, sementara di pesbar ada di Pakunegara, Penengahan, Labuhan Mandi,” jelasnya.

Dirinya berharap gerakan da’i konservasi akan semakin meluas di Lampung dan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Khususnya Lampung adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati seperti jenis satwa-satwa liar yang dilindungi karena terancam punah seperti gajah sumatera, harimau sumatera, badak sumatera, beruang madu, dan tapir. Dan koleksi tumbuhan seperti tanaman api-api, nipah dan pandan.

“Namun provinsi ini rentan terhadap kegiatan perburuan dan perdagangan ilegal satwa langka dan menjadi wilayah transit perdagangan ilegal burung-burung berkicau dari pulau Sumatera ke pulau Jawa. Namun dengan adanya forum ini diharapkan semakin mengedukasi masyarakat terutama generasi muda untuk mengantisipasi hal tersebut,” harapnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada sebait slogan yang kerap diucapkan dalam setiap pengajian bertemakan konservasi tersebut yaitu.

“Mari bersama menikmati alam. Makan dan minumlah, namun jangan berlebih-lebihan. Mari budayakan konservasi, agar alam tetap lestari, agar anak cucu bisa menikmati,” pungkasnya.(edi/mlo)




Pos terkait