Eksistensi Suoh-BNS Sebagai Lumbung Padi Terancam Meredup

  • Whatsapp
Sugeng Hari Kinaryo Adi

Medialampung.co.id – Kecamatan Suoh dan Bandarnegeri Suoh (BNS) merupakan lumbung padi di Kabupaten Lampung Barat. Namun sejak beberapa tahun terakhir, eksistensi dua kecamatan tersebut sebagai lumbung padi yang notabennya mampu mencukupi kebutuhan pangan untuk kabupaten setempat perlahan meredup, seiring maraknya pihak-pihak yang menjual hasil panen ke luar daerah seperti  Kabupaten Pringsewu dan Kota Metro.

Anggota DPRD Lambar asal BNS Sugeng Hari Kinaryo Adi mengungkapkan, hasil penelusurannya, ternyata Pringsewu dan Kota Metro menjadi daerah tujuan petani dari Kecamatan Suoh dan BNS untuk menjual Gabah Kering Giling (GKG), tanpa mengolah sendiri menjadi beras sebelum dijual.

Bacaan Lainnya



“Berawal dari rasa penasaran karena stok aman, meski saat terjadi gagal panen di Kabupaten Pringsewu dan Kota Metro, maka saya melakukan penelusuran sekaligus ingin membuktikan sebenarnya apa yang kerap disampaikan masyarakat kepada saya soal banyaknya petani menjual gabah ke dua daerah itu,” ungkap Sugeng.

Ia mengaku sempat mendatangi salah satu gudang penyimpanan gabah di dua daerah itu, dan kebetulan ia bertemu dengan sepuluh unit mobil dari Suoh dan BNS sedang melakukan pembongkaran gabah. Menurutnya itu tidak dilarang, hanya saja ini akan berdampak pada eksistensi Suoh dan BNS sebagai lumbung pangan di Lambar.

“Mirisnya, saat sudah di Metro dan Pringsewu terlebih sudah diolah menjadi beras, yang terkenal bukan gabah dari Suoh dan BNS melainkan gabah dari Metro dan Pringsewu, dan saya berharap ini bisa menjadi perhatian kita semua,” harapnya.

Maka ia mengajak kepada seluruh petani di wilayah itu untuk tidak lagi menjual gabah, melainkan mengolah terlebih dahulu menjadi beras untuk kemudian baru dijual, selain itu petani juga harus menyisihkan hasil panen untuk mengantisipasi paceklik, terlebih musim kemarau yang sudah mulai melanda.

“Sekarang musim kemarau, jangan jual ke daerah lain. Sisakan hasil panen untuk menghadapi paceklik, apalagi kekeringan sudah mulai melanda, dan sudah ada petani yang gagal panen, ini harus diantisipasi bersama,” pungkasnya. (nop/mlo)



Pos terkait