Eksplorasi Cadangan Migas di Lamteng Belum Jelas

  • Whatsapp
Ilustrasi

Medialampung.co.id – Proses eksplorasi cadangan minyak dan gas (migas) di Kampung Tanjungratu Ilir, Kecamatan Waypengubuan, hingga kini belum juga ada perkembangan yang signifikan. Termasuk dimulainya proses awal pengeboran.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemkab Lamteng Kusuma Riyadi menyatakan masalah ini sudah dirapatkan. “Sudah kita rapatkan kembali. Pada prinsipnya tidak ada penolakan dari warga. Meski demikian belum tahu proses dimulainya eksplorasi,” katanya.

Terkait proses pengeboran awal akan dilakukan akhir bulan ini, Kusuma menampik. “Masih lama. Tapi ya kalau bisa secepatnya. Harus dipersiapkan dahulu alat-alatnya. Disosialisasikan kembali kepada warga,” ungkapnya.

Sedangkan Camat Waypengubuan Dahrif Ansyori menyatakan hal yang sama. “Kalau warga tidak ada yang menolak. Sudah dirapatkan. Tapi belum tahu perkembangan selanjutnya,” katanya.

Dahrif melanjutkan, informasi terakhir yang didengar akhir bulan ini mulai dilakukan pengeboran tahap awal. “Kalau informasi terakhir yang saya dengar akan dilakukan pengeboran akhir bulan ini. Bahkan akan disaksikan Bapak Bupati sebelum meletakkan masa jabatannya. Tapi nggak tahu jelasnya. Termasuk tanah warga yang awal mula akan dieksplorasi,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, tanah yang akan dieksplorasi bukan lagi milik warga. Penlok  tanah eks PT Tanjung Bio Energi yang dulu bergerak di bidang produk pellet dan kayu gergajian. Lokasinya sekitar 200-an meter dari lokasi tanah milik warga sebelumnya. Luasnya sekitar 2,4 hektar. Pihak PT Harpindo Mitra Kharisma (HMK) juga sudah menghadap Bapak Bupati. 

Diketahui bahwa sebelumnya pihak PT HMK bersama Pemkab Lamteng telah membahas terkait eksplorasi cadangan migas. Hal ini terkait harga yang belum menemui kata sepakat dengan pemilik lahan.

Ketika itu, mantan Sekkab Adi Erlansyah menyatakan pemerintah daerah mendukung program pemerintah pusat untuk eksplorasi cadangan migas. “Tentunya, kita mendukung program pemerintah pusat untuk eksplorasi cadangan migas. Namun, memang benar terkait harga lahan yang akan dieksplorasi belum memenuhi kata sepakat. Pemilik lahan menolak harga yang ditawarkan sebelumnya Rp35 ribu per meter,” katanya.

Kesimpulan yang didapat, kata Adi, penilaian harga ditentukan tim appraisal yang baru dan pemilik lahan bisa menunjuk. “Penaksiran harga oleh tim appraisal baru. Pemilik lahan dan pihak PT HMK bisa menunjuk tim appraisal. Tapi, tim appraisal resmi atau legal. Bukan abal-abal,” ungkapnya.

Sayangnya, Mr. Huang Xi Hua dan Mr. Ricky saat dimintai tanggapannya belum mau mau berkomentar. “I am sorry. We still meeting,” ucapnya dalam bahasa Inggris.

Eksplorasi cadangan migas di Kampung Tanjungratu Ilir, Kecamatan Waypengubuan, Lamteng, mandek. Pasalnya, belum memenuhi rasa keadilan terkait harga lahan seluas 2 hektar yang akan dieksplorasi. Pihak PT HMK sebagai pemenang tender pengembangan wilayah kerja III migas atau SKK Migas belum bisa memberikan kejelasan terkait harga tanah lahan yang akan dieksplorasi. Tim appraisal hanya menghargai lahan Rp35.000 per meter sesuai nilai jual objek pajak (NJOP). Seharusnya bisa berunding langsung dengan pemilik lahan. Slamet Japar sebagai pemilik lahan meminta Rp500 ribu per meter. (sya/mlo)




Pos terkait