Faktor Ekonomi Masih Menjadi Penyebab Utama Perceraian di Bandarlampung

  • Whatsapp
Humas Pengadilan Tinggi Agama Tanjungkarang Junaidi

Medialampung.co.id – Tingkat perceraian di Kota Bandarlampung pada masa pandemi Covid-19 secara akumulasi tidak terlalu tinggi di tahun 2021, hanya ada beberapa perkara perceraian yang disebabkan karena faktor ekonomi dan perselingkuhan.

Humas Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Tanjungkarang Junaidi menjelaskan, penyebab perceraian di Bandarlampung didominasi oleh faktor ekonomi. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini banyak kepala keluarga yang berhenti bekerja atau di rumahkan.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut membuat banyak istri yang menggugat cerai suaminya. Pertama karena faktor ekonomi, yang kedua adanya perselingkuhan dan ketiga dengan kemungkinan terkecil yakni akibat KDRT.

Ia menerangkan, kasus perceraian tersebut terjadi akibat adanya pertengkaran rumah tangga yang berlarut-larut.

“Dan yang kedua faktor ekonomi, serta meninggalkan salah satu pasangannya. Lalu dari segi pendidikan juga mempengaruhi banyaknya kasus perceraian,” sambungnya 

Ia menambahkan, untuk perceraian di tahun 2019 mencapai 12.676 kasus, dengan cerai talaknya sebanyak 2.824 kasus. 

“Sementara cerai gugat sebanyak 9.852 yang sudah diputuskan oleh Pengadilan Agama. Ini se-provinsi yang telah terdata,” tuturnya 

Junaidi menambahkan, kasus perceraian di Kota Bandarlampung sendiri di tahun 2021 ada sekitar 500 perkara yang dibagi dengan jenis perkara.

Untuk perkara cerai gugat pada bulan Januari 118 kasus, Bulan Februari 130 kasus cerai dan untuk di Bulan Maret tercatat ada 130 kasus.

Sedangkan untuk perkara cerai talak di Bulan Januari 32 kasus, Februari 25 kasus dan Maret 39 kasus.

Selanjutnya untuk kasus Harta bersama yang juga diperkarakan pada bulan Januari ada 2 kasus, Februari 0 kasus dan Maret 2 kasus.

Lalu perkara hak asuh anak di Bulan Januari 2 perkara, Februari 0 perkara dan Maret 1 perkara.

Perkara perwalian juga menjadi perhatian PTA Tanjungkarang pada 2021 ada 2 perkara yang sudah di terima bulan ini.

Lain lagi dengan perkara Isbat nikah, pada Bulan Januari ada 3 yang juga sudah masuk, Bulan Februari 3 perkara dan bulan Maret 7 perkara.

Kemudian dispensasi kawin juga sudah diterima oleh panitera hukum pengadilan agama pada bulan Januari 4 kasus, Februari 6 kasus dan di Bulan Maret 3 kasus.

Yang terakhir perkara perebutan warisan pada bulan Januari 1 kasus, bulan Februari 1 kasus, sedangkan di bulan Maret 2 kasus.(*/mlo)




Pos terkait