Fatwa MUI Soal Vaksin Covid-19 Sinovac Adalah ‘Suci dan Halal’

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengeluarkan fatwa kehalalan vaksin Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang produksi Sinovac Life Science China dan PT Bio Farma.

Dikonfirmasi, Ketua MUI Kabupaten Lampung Barat Hi. Ja’far Sodiq, M.Si, membenarkan hal tersebut, kehalalan vaksin Covid-19 tersebut tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2021 setelah mempertimbangkan hasil dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI serta Keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang telah memberikan persetujuan penggunaan pada masa darurat atau Emergency Use Authorization (EUA).

Bacaan Lainnya


“Ya, dalam surat edaran tersebut MUI memutuskan dan menetapkan fatwa ketentuan hukumnya vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences China dan Bio Farma hukumnya suci dan halal,” ujar Ja’far, Selasa (12/1).

Dijelaskannya, ada sejumlah pertimbangan sebelum MUI mengeluarkan fatwa tersebut, yaitu Alquran, kaidah fikih, hadist nabi, para ahli serta sejumlah pandangan dari para ulama.

“Sehingga vaksin boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten. Kredibilitas dan kompetensi yang dimaksud ini juga terkait keputusan dari BPOM sebagai Lembaga yang memiliki otoritas secara institusional untuk menegaskan keamanan dan khasiat vaksin,” jelasnya.

Sementara itu, dikutip dari surat edaran fatwa Halal Vaksin Covid-19 tersebut bahwa terdapat tujuh poin yang menjadi Dasar penetapan kehalalan vaksin Sinovac. Pertama pendapat para ulama, antara lain pendapat Imam al-Zuhri dalam Syarah Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal yang menegaskan ketidakbolehan berobat dengan barang najis. Kemudian, pendapat Imam al-Nawani dalam Raudlatu at-Thalibin wa Umdatu al-Muftiin yang menjelaskan bahwa sesuatu yang tidak diyakini kenajisan dan atau kesuciannya, maka ditetapkan hukum sesuai hukum asalnya. Selanjutnya, pendapat Qasthalani dalam Irsyadu as-Sari yang menjelaskan, berobat karena sakit dan menjaga diri dari wabah adalah wajib. 

Kedua, Fatwa MUI No.4/2016 tentang Imunisasi. Ketiga, Fatwa MUI No.1/2010 tentang Penggunaan Mikroba dan Produk Mikrobial dalam Produk Pangan. Keempat, Fatwa MUI No.45/2018 tentang Penggunaan Plasma Darah untuk Bahan Obat.

Kelima, Laporan dan penjelasan hasil audit Tim Auditor LPPOM MUI bersama Komisi Fatwa MUI ke Sinovac dan PT Bio Farma tentang proses produksi dan bahan yang merupakan titik kritis dengan beberapa poin penjelasan.

Keenam, pendapat peserta rapat Komisi Fatwa pada 8 Januari 2021 yang menyimpulkan bahwa Proses produksi Sinovac tidak memanfaatkan babi atau bahan yang tercemar babi dan turunannya Proses produksi Sinovac tidak memanfaatkan bagian tubuh manusia Proses produksi Sinovac bersentuhan dengan barang najis mutawassithah, sehingga dihukumi mutanajjis, tetapi sudah dilakukan pensucian yang telah memenuhi ketentuan pensucian secara syar’i Proses produksi Sinovac menggunakan fasilitas produksi yang suci dan hanya digunakan untuk produk vaksin Covid-19 Peralatan dan pensucian dalam proses produksi dipandang telah memenuhi ketentuan pencucian secara syar’i.

Ketujuh, keputusan BPOM yang memberikan persetujuan penggunaan darurat (UEA) dan jaminan keamanan, mutu, serta kemanjuran bagi vaksin Sinovac yang menjadi salah satu indikator bahwa vaksin tersebut memenuhi kualifikasi thayyib.(edi/mlo)




Pos terkait