Fokus Ekspor, GGF Terus Kembangkan Program CSV 

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan kunjungan kerja ke Great Giant Foods (GGF) di Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah, Selasa (21/7). Dalam kunjungan ini 17 anggota DPR RI didampingi Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto, Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Hortikultura, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta pejabat dari Pemprov Lampung.

Rombongan disambut  di Training Center GGF oleh Head of Corporate Affairs Directorate GGF Welly Soegiono, Beni R. Johan (Great Giant Livestock), Supriono Loekito (Fresh Fruit), Halim Sunarto Jaya (Factory), Hendri Tanujaya (Corporate Affairs), Arief Fathullah (Sustainability), Iwan Zumrotul (Emergency Rescue Team), Deni Kurniawan (Cannery), Nana Kupriatin (BP), Eko Irianto (Label), Kevin Raharja (LOB), dan Paulina Yuniarsih (Breeding). Rombongan mengunjungi proses produksi di Factory, penggemukan sapi di GGL, dan instalasi proses pupuk cair LOB (Liquid Organic Biovertilizer).

Bacaan Lainnya



Dalam kesempatan ini, Welly Soegiono menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada rombongan atas kunjungannya ke GGF selaku perusahaan hortikultura yang mempekerjakan sekitar 20-25 ribu tenaga kerja.

“Di tengah pandemi Covid-19 ini, semua masih beroperasi seperti biasa di perusahaan kami,” tuturnya. 

Dalam mencegah terjadinya penyebaran Covid-19, kata Welly Soegiono, manajemen GGF menerapkan protokol kesehatan dengan ketat di setiap proses produksi.

“Kita terapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Termasuk protokol kesehatan kepada setiap tamu yang berkunjung ke GGF,” katanya.

Welly Soegiono menjelaskan bahwa GGF selama 2019 telah berhasil mengekspor buah dalam kaleng sekitar 13.500 kontainer dan buah segar sebanyak 4.000 kontainer ke mancanegara.

“Indonesia pada 2020 ini menjadi supplier nanas terintegrasi terbesar di dunia. Untuk mengantisipasi permintaan buah yang terus meningkat, GGF mengembangkan program dengan pola Creating Shared Value (CSV). Dengan model CSV yang diterapkan kali pertama di Tanggamus, petani sudah bisa ekspor pisang mas ke Tiongkok,” ungkapnya.

Model CSV, kata Welly Soegiono, akan terus dikembangkan di berbagai daerah. 

“Setelah Tanggamus berlanjut ke Jembrana, Bali; Bener Meriah, Aceh; Bondowoso, Jawa Timur; dan rencananya dikembangkan di beberapa wilayah lain di wilayah timur Indonesia untuk memudahkan ekspor ke Jepang dan Tiongkok,” katanya.

Guna mendukung program CSV, kata Welly Soegiono, diterapkan aplikasi sistem e-grower. “Kita akan terapkan program e-grower. Program ini telah dicanangkan oleh Menteri Perindustrian pada 2019.

“Harapannya program CSV terus berkembang untuk bisa meningkatkan penghasilan masyarakat, karena dijamin harga tetap stabil tidak jatuh ketika panen raya. Harga jual pisang ditentukan sesuai kontrak per tahun,” tegasnya.

Dengan adanya program ini, kata Welly Soegiono, kebun GGF di Lampung bisa fokus ekspor.

“Kita fokus ekspor. Kebutuhan lokal seperti Bali dan Surabaya bisa dipasok dari produksi lokal dengan mitra CSV,” ungkapnya.

Melihat kondisi riil GGF, Ketua Komisi IV DPR RI Sudin mengapresiasi kegiatan usaha buah hortikultura GGF yang telah menghasilkan buah untuk ekspor dan mempekerjakan banyak karyawan.

“Kita mengharapkan ada pengengembangan kemitraan pola CSV di daerah-daerah seperti NTB, NTT, Sulawesi, dan daerah-daerah lain di Indonesia,” katanya. (rls/sya/mlo)



Pos terkait