Harga Meroket, Lumbokseminung Panen Raya Alpukat

  • Whatsapp
Kecamatan Lumbokseminung, Kabupaten Lampung Barat kini mulai memasuki musim panen buah alpukat. Tampak ratusan kilogram buah alpukat tengah di kumpulkan para pengepul seperti di Pekon Lombokselatan ini. - Foto Edi

Medialampung.co.id – Harga buah alpukat di sentra produksi Kecamatan Lumbokseminung, Kabupaten Lampung Barat kini melambung mencapai Rp15 ribu/kilogram untuk kategori kelas super (ukuran besar). Kenaikan harga itu juga bertepatan dengan memasuki masa panen raya di wilayah setempat.

Hendra, salah seorang penampung buah alpukat yang juga peratin Pekon Lombokselatan menuturkan bahwa harga alpukat saat ini mencapai kisaran Rp15 ribu/Kg untuk kategori buah super, harga itu relatif tinggi dibanding pada musim panen sebelumya yang hanya mencapai Rp12 ribu/Kg, bahkan untuk kategori kualitas asal (ukuran kecil) harga hanya berkisar Rp6 ribu /Kg.

Bacaan Lainnya



“Saat ini harga alpukat cukup mahal, ditambah bertepatan dengan musim panen, untuk hasil produksi kita kirim keluar daerah seperti perusahaan kosmetik dan ke sejumlah pasar buah besar di daerah perkotaan,” terang Hendra.

Kebutuhan buah alpukat sendiri, kata dia, cukup banyak di konsumsi konsumen lokal di Kabupaten Lampung Barat seperti permintaan para pedagang kaki lima yang selalu menyediakan alpukat sebagai olahan jus bagi para pelanggannya.

Sementara itu,  memasuki masa panen buah alpukat yang menjadi salah satu produk hasil bumi unggulan di wilayah kecamatan setempat itu. Balai Penyuluh Pertanian (BPP) wilayah setempat terus mendorong peningkatan produksi buah lokal tersebut salah satunya dengan meningkatkan pemeliharaan usai dilakukan pemanenan.

Kepal BPP Lumbokseminung Mat Thamrin. mengatakn pihaknya  berupaya terus mendorong pengembangan buah alpukat di wilayah itu, karena selain menjadi ciri khas, mutu dan kualitas buah yang dihasilkan pun sangat bagus.  “Karena kualitasnya tidak diragukan lagi, terutama di wilayah Sukabanjar, maka kami selalu ingatkan petani agar selalu mengutamakan perawatan terutama usai panen,” terangnya.

Saat ini, kata dia, sebagian besar masyarakat sebagi pelaku pembudidaya buah tersebut khususnya di tingkat pengepul di banderol senilai Rp6 ribu per kilogram (Kg), sementara di tingkat pasar harga jual buah alpukat mencapai Rp12 ribu/Kg. “Dengan harga tinggi itu, buah lansung di jemput oleh pengepul ke lokasi sehingga peluang usaha ini perlu kita dorong. Bagaimana caranya setiap tahun produksinya dapat meningkat dan menjadi sumber penghasilan tetap masyarakat setempat,” harapnya.

Dijelaskanya, setiap batang buah alpokat mampu menghasilkan 200 Kg pertahun, sehingga jika diakumulasikan maka penghasilan  petani alpokat  mencapai Rp2 juta per tahun. Melihat peluang itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk membudiyakan bibit baru. “Kami sudah sampaikan agar jangan bergantung dengan bantuan pemerintah, dan kami sarankan mereka menyemai bibit baru dan kami akan memberikan bantuan dalam bentuk pembinaan teknologinya,” kata dia.

Menurutnya, ajakan untuk meningkatkan produksi buah lokal ke depan semakin ditingkatkan guna mendorong kesejahteraan petani dengan melalui potensi yang selama ini belum dimaksimalkan. “Sebetulnya banyak yang bisa kita kembangkan di wilayah kecamatan tapi memang butuh tahapan. Mudah-mudahan saja, setiap tahun selalu ada peningkatan,” harapnya. (edi/lus/mlo)



Pos terkait