Harga Naik, Petani Sereh Wangi Bisa Tersenyum

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Walaupun sedikit, akan tetapi kenaikan Rp. 15.000/Kg dari harga biasanya yang hanya Rp. 100.000/Kg, telah membuat hati petani Sereh Wangi di dusun Karang Umpu Kampung Karang Agung Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Waykanan berbunga-bunga, dan berharap harga komoditi andalan mereka itu bisa mencapai harga semula yang pernah mencapai harga Rp, 350.000/Kg.

“Alhamdulillah, di tengah situasi pandemi Covid-19, harga minyak sereh wangi berangsur naik, karena manfaat minyak sereh wangi ini juga sangat banyak, dan dapat mengobati Berbagai macam jenis penyakit, seperti Pegal-pegal, gatal-gatal, batuk, pilek, serta banyak digunakan oleh masyarakat di musim pandemi Covid-19 ini, untuk mengembalikan indera penciuman yang hilang,” ujar Indra, petani sereh wangi di Dusun 2 Karang Umpu Kampung Karang Agung Kecamatan Pakuan Ratu.

Indra menjelaskan, minyak sereh wangi pernah mencapai Rp 350.000/kg beberapa waktu lalu. Setelah sempat bertahan di harga yang paling tinggi itu, tidak lama kemudian harga minyak sere wangi berangsur turun seperti sekarang ini. Ketidakpastian harga itu juga diakui petani lainnya di Kecamatan Pakuan Ratu khususnya dan kecamatan lainnya.

Sementara itu, sejumlah agen penampung minyak sereh wangi menyambut baik kenaikan harga komoditas pertanian tersebut. Sempat merosot ke harga yang sangat rendah, kini harga minyak sereh wangi berangsur membaik. Petani yang sebelumnya malas melakukan penyulingan, sekarang mulai bersemangat memproduksi minyak serai seiring membaiknya harga komoditas tersebut.

“Saat ini, harga minyak serai sudah berada di posisi Rp 115.000/kg. Petani mulai ramai melakukan penyulingan, mudah-mudahan harganya semakin baik ke depan,” jelasnya.

Pernyataan Indra tersebut dibenarkan oleh Madon, salah satu dari pekerja Produksi minyak sereh wangi yang mengakui meski sereh wangi memiliki banyak manfaat, namun harga kerap tidak stabil sehingga menimbulkan kegalauan bagi petaninya, 

“Sudah menjadi sipat kami para petani mana komoditas yang harganya mahal ramai ramai menanamnya, begitu juga saat harganya jatuh, langsung sama sama pula meninggalkannya, dan itu pula yang terjadi pada para petani pembudidaya sereh wangi, dulu menggebu-gebu, setelah harganya jatuh, ya nelongso, tetapi dengan kondisi sekarang ini, mudah-mudahan kawan kawan petani semangat lagi,” ujar Madon.

Terpisah, Ketua Karang Taruna Kampung Karang Agung Ashari berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa pendampingan kepada petani sereh wangi di Kampungnya sekaligus menjamin kelayakan harga produksinya.

“Saya melihat Kampung Karang Agung ini sangat cocok untuk pengembangan sereh wangi, dan mereka juga sudah memahami cara pembudidayaannya, jadi tidak terlalu memakan biaya bila ingin membinanya tinggal memastikan keadaan pupuk dan kestabilan  harga,” ujar Ashari. (sah/mlo)


Pos terkait