Harga Pestisida Naik, Petani Menjerit

Medialampung.co.id – Ditengah terpaan pandemi corona yang masih belum kunjung usai, naiknya harga Minyak Goreng dan BBM, masyarakat Waykanan yang 80% adalah berprofesi sebagai petani dikejutkan dengan melonjaknya harga Pestisida.

“Sekarang ini benar benar masa yang sulit bagi kami para petani, di satu sisi kami harus terus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, disisi lain untuk keluar rumah mencari kerja kami masih takut corona dan masih banyak lagi persyaratan yang harus kami penuhi, mirisnya lagi saat hendak menggarap kebun harga minyak semprot (pestisida red), naik tinggi bahkan ada yang naik 40 bahkan sampai 50%,” keluh Syarif warga kampung Bandar Dalam.

Bacaan Lainnya


Selain mengeluhkan kenaikan harga pestisida,  Syarif pun merasa kebingungan karena menurutnya walaupun mahal petani terpaksa beli racun rumput walaupun dengan cara apapun.

“Karena kita petani tanpa menggunakan racun kita kewalahan hadapi rumput masa kini,” tutur syarif dengan nada bingung dan bahkan sudah menggunakan pestisida ada rumput yang tidak juga mati.

Terpisah, Wito (47) Pemilik Kios saat dikonfirmasi terkait harga Pestisida yang sangat tinggi tersebut menyatakan menurut suplayernya disebabkan adanya kendala pada bahan aktif di semua pestisida yang harus membeli dari luar negeri.

“Harga naik drastis tahun ini dikarenakan adanya kendala pada bahan aktif di semua pestisida. Dimana biasa nya Minyak semprot pembasmi rumput dengan merk Bionasa di bandrol dengan harga Rp.60.000/liter kini tembus Rp.110.000/liter, sedangkan obat rumput sapu bersih saat ini dibandrol dengan harga Rp.93.000/liter,” ujar Tini.

Terpisah, Ketua Harian DPP Empati Waykanan, Adi Suratman menyayangkan kenaikan harga pestisida, permasalahan petani khususnya di Kabupaten Waykanan seakan tak kunjung habis seakan silih berganti, mulai dari harga pestisida yang melambung naik hingga saat ini, ditambah lagi sulitnya mendapatkan pupuk subsidi.

Menyikapi kondisi seperti ini, dirinya berharap pihak-pihak berwenang turun tangan. Minimal menelusuri penyebab kenaikan harga yang sangat memberatkan petani dan akhirnya bermasalah pada hasil bumi.

“Saya berharap produsen atau distributor kiranya tidak berspekulasi mengambil keuntungan berlebihan dari petani. Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan Kabupaten Waykanan kiranya dapat memantau hal ini di lapangan,” tegasnya.(sah/mlo)


Pos terkait