Harga Pupuk Melambung, Petani di Waykanan Menjerit

  • Whatsapp
Ilustrasi

Medialampung.co.id – Selain terus dihantui  dengan pandemi corona yang entah  kapan berakhir, masyarakat Waykanan, khususnya  masyarakat Kecamatan Rebangtangkas dan sekitarnya mulai dipusingkan dengan naiknya harga pupuk di pasaran, dimana kalau sebelumnya harga pupuk urea hanya Rp.105.000/zak sekarang sudah naik menjadi Rp160.000/zak, demikian pula dengan harga pupuk jenis phonska, yang menjadi Rp.180.000/zak.

Sementara kedua jenis pupuk tersebut merupakan yang paling dibutuhkan oleh golongan masyarakat ekonomi lemah, karena pupuk jenis lain terkesan lebih mahal dari kedua jenis tersebut.

Bacaan Lainnya


“Jenis pupuk kita memang banyak, tetapi sejak saya mulai menggunakan pupuk saya hanya menggunakan urea dan ditambah Phonska, karena kedua jenis pupuk ini menurut saya sudah cukup untuk meningkatkan produksi kebun  yang saya punya selain itu karena kedua jenis pupuk itulah yang saya mampu membelinya, tetapi dalam seminggu terakhir justru harga phonska dan urea melonjak tinggi, disisi lain harga produksi kopi, karet dan ataupun lainnya tidak naik, kebijakan ini benar benar menyusahkan kami para petani,” ujar Antoni, warga Rebang Tangkas Waykanan.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian dan Holtikultura dan Peternakan Waykanan, Ropiki, S.TP., MM., menyatakan, sudah pernah melakukan peneguran kepada distributor pupuk di Waykanan untuk tidak menaikkan tarif melebihi batas Harga Eceran tertinggi (HET), akan tetapi ternyata hal itu masih berjalan, dan pihaknya akan segera menebus kembali sebelum memberikan sanksi.

“Setahu saya memang harga pupuk Urea mengalami kenaikan hingga mencapai Rp450/kg, sementara untuk Phonska tidak mengalami kenaikan namun kadarnya saja yang dikurangi, tetapi kami belum tahu kalau akhirnya di eceran mencapai demikian, dan kami akan segera lakukan penertiban,” tegas Ropiki.

Masih menurut Ropiki, bahwa untuk mendapatkan pupuk subsidi maka seorang petani harus terdaftar di kelompok tani, dimana nanti berdasarkan E RDKK yang dimiliki kelompok tani, sejumlah itu lah kelompok tani tersebut mendapatkan pupuk, dan kelompok tani tersebut tidak boleh memperjual belikan pupuk jatahnya itu keluar kelompok tani, kecuali sudah sepengetahuan anggota kelompok dan kebutuhan Anggota Kelompok sudah terpenuhi.

Dalam pada itu, permasalah pupuk memang merupakan persoalan laten yang seakan tidak pernah berhenti bermasalah, karena berbagai kebijakan untuk pengaturannya tetap disalahgunakan, misalnya di Negara Batin diduga terdapat sebuah kelompok tani yang memanipulasi data masyarakat (KTP) untuk mendapatkan jatah pupuk subsidi, mirisnya pupuk tersebut malah dijual kepada orang lain diluar anggota kelompok tani tersebut. (wk1/mlo)




Pos terkait