Harimau Sumatera “Batua” Akan Dilepasliarkan di TNBBS

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BB-TNBBS) berencana akan melepasliarkan Harimau Sumatera “Kyai Batua” tahun 2021 yang akan dipusatkan di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) wilayah administrasi Pekon Mon Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar), tanggal 17 Agustus 2021 mendatang.

Kasi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan (P3) BB-TNBBS, Wawan Eviyanto, S.P., M.M., mengatakan sebelum dilaksanakan pelepasliaran harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), BB-TNBBS yang bekerjasama dengan stakeholder terkait telah memaksimalkan sosialisasi ke masyarakat yang ada di wilayah administrasi rencana pelepasliaran harimau sumatera itu.

Bacaan Lainnya

Seperti yang dilaksanakan Kamis (12/8) kemarin, sosialisasi dilaksanakan di Pekon Ulok Mukti, dan Pekon lainnya di wilayah administrasi itu, dengan titik pelepasliaran di kawasan TNBBS Pekon Mon atau dengan jarak sekitar empat kilometer dari pemukiman warga terdekat.

“Sosialisasi itu sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang harimau sumatera, sehingga masyarakat bisa lebih memahami mulai dari perilaku harimau, dan lainnya termasuk larangan perburuan,” katanya.

Dijelaskannya, masyarakat juga harus mengetahui analisis kualitatif dan kuantitatif kajian perilaku harimau sumatera “batua” tersebut dilepasliarkan antara lain pola perilaku yang ditunjukkan subjek (harimau, red) masih sesuai dengan pola perilaku alami satwa sejenis di habitatnya. Selain itu, adaptasi stereotip masih sangat minim dan dapat teratasi dengan pemberian pengayaan. Kemudian, subjek menunjukkan respon positif terhadap stimulus/pengayaan yang diberikan, dan sikap teritorial, waspada, serta elusif masih terlihat dari perilaku kategori interaksi dan survival.

“Kemampuan lain terkait pertahanan diri seperti eksplorasi wilayah dan pengenalan objek-objek di sekitar lingkungan ditunjukkan dengan baik, dan subjek memiliki kemampuan melumpuhkan mangsa yang cukup mumpuni,” kata dia.

Karena itu, pelepasan harimau yang akan dilaksanakan tersebut sangat penting salah satunya sebagai penyeimbang ekosistem. Jika harimau punah, hidup manusia akan bermasalah. Sehingga, masyarakat harus benar-benar memahami terkait dengan rencana pelepasliaran harimau sumatera tersebut. Sementara, berdasarkan monitoring berkala harimau sumatera di TNBBS tercatat pada tahun 1998-2000 dengan populasi sebanyak 30 ekor, tahun 2003 dengan populasi sebanyak 40-43 ekor.

“Kemudian, tahun 2006 dengan populasi 44 ekor, dan tahun 2012 sebanyak 47 ekor. Sedangkan di tahun 2012-2013 dengan lokasi di TWNC ada 28 ekor, dan di tahun 2015 yang juga di lokasi TWNC dengan populasi 32 ekor,” katanya.

Sementara itu, kata dia, di kawasan TNBBS tahun 2016 ada 55 ekor dan TWNC ada 37 ekor. Selanjutnya di tahun 2019 dengan lokasi di kawasan TNBBS dengan populasi 43 ekor. Dalam monitoring tersebut dengan metode CMR, Occupancy, CMR, maupun SECR. Selain itu, rencana pelepasliaran harimau sumatera di kawasan TNBBS wilayah Ngambur itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk mengandangkan ternak, jangan buang bangkai ternak di hutan dan sebaiknya dikubur atau dibakar.

“Selain itu membersihkan kandang ternak dari belukar dan tidak bepergian di malam hari, kita juga berharap masyarakat dapat berbagi ruang dengan satwa liar,” pungkasnya.(yan/d1n/mlo)


Pos terkait