Harimau Sumatera yang Terjerat di TNBBS Berhasil Diselamatkan

  • Whatsapp
Proses evakuasi harimau malang yang dilakukan tim gabungan. (Foto Doc BB TNBBS)
Proses evakuasi harimau malang yang dilakukan tim gabungan. (Foto Doc BB-TNBBS)

Medialampung.co.id, SUOH – Tim gabungan berhasil menyelematkan seekor Harimau Sumatera, yang terjerat di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Resort Suoh, Lampung Barat.

Dalam press release Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan (BB-TNBBS) yang diterima redaksi, pada tanggal 2 Juli 2019 pukul 12.37 tim survei kamera jebak (Camera trap) Harimau Sumatera dari TNBBS dan NGO konservasi Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) menemukan seekor Harimau Sumatera dalam kondisi terjerat di dalam hutan kawasan TNBBS, tepatnya di Resort Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

Bacaan Lainnya



Auman harimau tersebut terdengar oleh tim dari jarak satu kilometer ke tempat harimau terjerat. Kondisi harimau masih sangat agresif, menandakan waktu kejadian terkena jerat baru saja terjadi. Tim berinisiatif menjauhi lokasi jerat, agar harimau tidak semakin agresif, karena dapat membuat luka jerat semakin dalam.

Ketua tim survei Taufik Hidayat, Polhut TNBBS, langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Balai Besar TNBBS, dan ditindaklanjuti oleh Direktorat KKH yang kemudian meminta Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung untuk menurunkan Tim Reaksi Cepat TNBBS dan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang terdiri dari tim medis (drh. Erni Suyanti dan drh. Karyo) dan rescue yang terlatih dalam penanganan dan evakuasi satwa terjerat.

Tanggal 3 Juli 2019 pukul 13.26, tim WRU sampai di lokasi desa terdekat dari posisi harimau terjerat, di Batu Ampar, Kecamatan Suoh, Kab. Lampung Barat, dan segera mempersiapkan peralatan bius, dan kandang angkut.

Proses Rescue dilakukan dengan pembiusan dan tindakan medis yang diperlukan untuk mengobati luka jerat. Diketahui bahwa bagian kaki dan perut mengalami luka akibat jerat.

Pada tanggal 4 Juli 2019 pukul 03.00, proses evakuasi harimau terjerat berjalan dengan lancar dan baik. Harimau tersebut kemudian dibawa ke Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BB-TNBBS), Ir. Agus Wahyudiyono, menyatakan bahwa ancaman terhadap eksistensi Harimau Sumatera sebagai satwa langka dan endemic di Pulau Sumatera cukup tinggi.

“Kami telah menerapkan sistem patroli perlindungan kawasan sejak tahun 2014, bersama para mitra NGO dari WCS-IP, YABI dan WWF serta Sumatran Tiger Project GEF-UNDP. Kejadian ini menandakan bahwa ancaman terhadap eksistensi harimau masih tinggi dan serius, untuk itu kami akan memperkuat sistem patroli perlindungan ini menjadi lebih intensif, dan akan menelusuri pemburu dan jaringan mana yang terlibat untuk segera ditindak,” tegas Kabalai BB-TNBBS.

Di sisi lain, Kepala Balai BKSDA Bengkulu – Lampung, Ir. Donal Hutasoit, M.E, mengemukakan bahwa BKSDA telah mempunyai tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang terdiri dari Polhut dan Dokter Hewan yang bertugas untuk menyelamatkan dan menangani konflik satwa liar.

“Respon terhadap harimau yang terjerat harus dilakukan dengan cepat, agar satwa tersebut dapat diselamatkan. Selanjutnya satwa ini akan dititipkan sementara di Lembaga Konservasi sampai kondisi membaik dan siap dilepasliarkan kembali,” ujar Kepala Balai KSDA Bengkulu-Lampung.

Diketahui bahwa Harimau Sumatera merupakan satwa langka yang dilindungi oleh Undang Undang di Indonesia, serta masuk dalam status Critically Endanger. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu subspesies harimau yang tersisa yang masih dimiliki Indonesia. Dua kerabat lainnya, harimau bali dan harimau jawa telah punah pada tahun 1940-an dan 1980-an. Saat ini Harimau Sumatera tengah menghadapi tekanan dan ancaman perburuan dan hilangnya habitat alami akibat kegiatan manusia.

Direktorat KKH KSDAE telah memiliki program pemantauan Harimau Sumatera di Kawasan konservasi. Bekerjasama dengan mitra, saat ini sedang dilakukan Sumatran Tiger Wide Survey di seluruh kantong populasi Harimau Sumatera baik di dalam Kawasan konservasi maupun di luar Kawasan konservasi.

Sebanyak 74 tim survei (354 anggota tim) dari 30 lembaga diturunkan untuk melaksanakan survei di 23 wilayah sebaran harimau seluas 12,9 juta hektar, yang 6.4 juta hektar di antaranya adalah habitat yang disurvei pada SWTS pertama. Tercatat 15 unit pelaksana teknis (UPT) KLHK, lebih dari 10 KPH, 21 LSM nasional dan internasional, dua universitas, dua perusahaan, dan 13 lembaga donor yang telah bergabung mendukung kegiatan SWTS. Diharapkan pada tahun 2019, didapatkan data populasi dan kantong habitat Harimau Sumatera. (nop/mlo)



Pos terkait