Infrastruktur Jalan Jadi Bahan Perdebatan Loekman dan Musa 

  • Whatsapp

Mediaampung.co.id – Soal masalah infrastruktur menjadi perdebatan calon bupati Musa Ahmad dan Loekman Djoyosoemarto. Kedua calon bupati ini punya pandangan yang berbeda dalam upaya penyelesaian.

Dalam sesi tanya jawab debat, calon bupati Lamteng Misa Ahmad mempertanyakan hal ini kepada Loekman. “Saya ingin mempertanyakan sebuah kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kita. Sampai hari ini, masyarakat mengeluhkan kondisi jalan kita. Masyarakat terkadang tidak mau tahu apa kendala dan langkah-langkah kita. Apa yang akan diupayakan Pak Loekman untuk menyelesaikan masalah infrastruktur di Lamteng yang kita cintai ini?” tanyanya.

Bacaan Lainnya


Loekman menjawab dengan kerja gotong-royong. “Untuk mengatasi kurang baiknya infrastruktur di Lamteng, saya menyubstitusinya dengan kerja gotong-royong. Inilah yang saya selalu gelorakan kepada masyarakat bahwa pembangunan di Lamteng ini tidak cukup hanya dilakukan pemerintah. Semua lapisan masyarakat harus ikut bertanggung jawab untuk ikut memperbaiki infrastruktur yang ada. Memeliharanya yang utama. Dengan adanya budaya gotong-royong yang sudah hidup kembali di Lamteng ini, Insya Allah Lamteng lebih maju lagi dan percepatan pembangunan infrastruktur pun akan lebih baik lagi. Kemudian yang paling penting bagi masyarakat yang sudah bergotong-royong memelihara hasil pembangunan itu sendiri,” jawabnya.

Loekman memberikan contoh agar kualitas infrastruktur terpelihara dengan baik. “Contoh agar jalan baik dan terpelihara lama, siring-siringnya pun harus diperhatikan. Selama ini masyarakat sudah apatis dalam hal itu. Kita harus membangkitkan semangat gotong-royong di masyarakat sehingga apapun yang kita bangun milik masyarakat itu sendiri,” tambahnya.

Mendengar jawaban ini, Loekman merasa tidak puas. “Kalau demikian Pak Loekman, masyarakat Lamteng akan lama melihat kondisi jalan yang ada. Memang membangun Lamteng ini tidak hanya mengandalkan APBD Lamteng. Karena itu, perlu peran serta hadirnya APBD provinsi dan pusat untuk membantu menyelesaikan masalah infrastruktur di Lamteng ini. Kalau hanya mengandalkan masyarakat gotong-royong saja, saya pikir lima tahun ke depan juga nggak selesai-selesai. Ini tugas kita ke depan sebagai seorang pemimpin untuk jemput bola meyakinkan pemerintah provinsi dan pusat untuk menumpahkan anggarannya. Selain itu, juga untuk memperbaiki mutu pembangunan di Lamteng ini,” ungkapnya.

Giliran Loekman bertanya kepada Musa Ahmad. “Dinda Musa, tadi Anda mengatakan dengan keterbatasan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur minta bantuan APBD provinsi dan pusat. Jalan provinsi juga hancur semua. Kemudian pemerintah pusat. Apalagi sekarang dalam kondisi pandemi Covid-19 entah sampai kapan. Tahun ini saja DAU dipotong 50 persen. Apakah dengan janji-janji saudara jadikan jalan kabupaten dapat mulus, apa konsepnya?” tanyanya.

Musa menjawab insya Allah akan mengatasi masalah jalan dalam kurun waktu tiga tahun.

“Saya juga sudah koordinasi dengan gubernur bahwa jalan-jalan di poros Lamteng diserahkan ke pemerintah pusat. Status jalan menjadi jalan negara. Jalan Kotagajah-Simpangrandu, Simpangrandu-Sadewa, Wates-Kalirejo, dan Kalirejo-Pringsewu. Tidak ada salah juga kalau kita minta APBD provinsi membantu kita menyelesaikan beberapa ruas jalan yang panjang di Lamteng. Postur APBD Lamteng juga masih bisa dilakukan penekanan anggarannya. Konsep pemerintahan kita nanti bukan hura-hura. Kita meninggalkan acara seremonial dan fokus pembangunan. Anggaran masyarakat kita kembalikan sepenuhnya ke masyarakat. Masyarakat Lamteng sudah lelah dan capek melihat kondisi jalan,” katanya.

Menanggapi jawaban Musa, Loekman menyatakan jika jalan provinsi diserahkan ke pusat span of control-nya jauh.

“Sejalan dengan kita, cuma kalau jalan poros diserahkan ke pusat span of control-nya akan jauh. Jalan negara di Lamteng pun tidak selamanya baik. Apalagi jalan poros yang jadi kewenangan provinsi diserahkan ke pusat. Saya rasa, kebijakan ini tak sependapat. Karena semakin jauh ke pusat tanggung jawabnya, maka semakin sulit pengawasannya. Saya berharap rencana itu tak dilanjutkan,” ungkapnya. (sya/mlo)




Pos terkait