ITERA Undang Kepala Bappeda Lambar

  • Whatsapp

Medialampung.co.id –  Institut Teknologi Sumatera (ITERA) mengadakan audensi pemaparan akhir tugas besar  mata kuliah studi perencanaan wilayah (PL4101) di Laboratorium PWK, Gedung Labtek I, Lantai 3, ITERA, Bandarlampung, Jumat (20/12). Pada acara tersebut, ITERA mengundang Kepala Bappeda Lambar Ir. Okmal, M.Si., bersama Pemkab Pesisir Barat dan Kabupaten Lampung Utara.

Dalam pertemuan audensi tersebut, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ir. Okmal, M.Si., mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya, karena dengan kunjungan yang singkat selama 5 hari yaitu 23–27 September 2019 di Kabupaten Lambar, ternyata dapat menghasilkan berbagai konsep dan skenario pengembangan wilayah yang inovatif dan berdurasi jangka panjang.

Bacaan Lainnya



Selain itu, lanjut Okmal, hasil kunjungan tersebut berguna bagi Pemkab Lampung Barat sebagai pertimbangan menentukan langkah strategis mewujudkan kemandirian daerah yang berbasiskan keunggulan daerah. Jika mengacu berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Permenpdt) No.79/2019 bahwa Lambar telah terentaskan dari status kabupaten tertinggal.

Dijelaskannya, pembangunan merupakan proses yang dinamis, karenanya diperlukan pula pendekatan teknokratik, dimana kontribusi perguruan tinggi sangatlah penting guna memberikan arahan yang efektif bagi pencapaian tujuan  pembangunan daerah. “Diharapkan kedepan hubungan dapat lebih ditingkatkan karena Lampung Barat telah mengikat kerjasama dengan BIG untuk pengembangan simpul jaringan geospasial. Hasil studio perencanaan wilayah ini, menjadi masukan yang berharga bagi materi teknis dokumen  RTRWK Lampung Barat yang saat ini tengah dalam proses revisi perda,” ucapnya.

Pihaknya berharap kepada studio perencanaan wilayah kiranya dokumen hasil studio ini maupun dokumen kajian lainnya yang berupa jurnal kiranya dapat disampaikan/disumbangkan kepada Pemkab Lambar yang telah berkomitmen sebagai kabupaten literasi, baik kepada Bappeda, Balitbangda, maupun sebagai koleksi perpustakaan daerah. (lus/mlo)



Pos terkait