Jadi Saksi, Ketua Fraksi PKS DPRD Lamteng Ini Beber Stor Fee dan Belum Dapat Proyek

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Lima saksi dihadirkan dalam sidang lanjutan suap fee proyek di Dinas Bina Marga Lampung Tengah (Lamteng), atas terdakwa Mustafa.

Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiq Ibnugroho menjelaskan kepada Ketua Majelis Hakim Efiyanto, bahwa hanya dua saksi yang hadir. Yakni, Muhammad Ghofur sebagai Ketua Fraksi Partai PKS di DPRD Lamteng. Dan Berkah Mofaze Caropeboka sebagai Ketua Garda Pemuda Partai NasDem.

Bacaan Lainnya



Dalam persidangan itu, salah satu saksi Muhammad Ghofur menjelaskan, bahwa fraksi yang dipimpin oleh dirinya pun ikut kecipratan uang pengamanan penandatangan pinjaman ke PT SMI.

“Waktu itu memang kebetulan kami (fraksi PKS) tidak menolak untuk tanda tangan. Tapi yang jelas ada yang menerima dan menolak” katanya, Kamis (8/4).

Menurut Ghofur, dirinya menceritakan kenapa sampai fraksi PKS mau menerima peminjaman itu. Bahwa pihaknya menilai banyak jalan-jalan yang rusak di Lamteng. “Dari situ semua fraksi pun meminta rapat paripurna itu dipending,” kata dia.

Dari situ lanjut dia, dalam rapat paripurna membahas APBD 2018 pinjaman ke PT SMI itu pun disetujui oleh seluruh fraksi. “Saya juga enggak beberapa tahu (sampai disetujui). Mungkin sudah ada diskusi, makanya yang menolak sepakat menerima semua,” ucapnya.

Dirinya pun membeberkan dalam persetujuan itu, ada beberapa permintaan dari dewan agar dipenuhi oleh pihak Pemda Lamteng. Yakni harus menyerahkan sejumlah uang. “Saya tidak tahu detailnya. Kalau kami hanya diberi saja,” jelasnya.

Pemberian ke fraksi PKS sendiri usai rapat paripurna tersebut. Dimana Raden Sugiri menghubungi dirinya. “Ya waktu itu memang (ketua fraksi) dipanggil sendiri-sendiri. Dijelaskan bahwa nanti ada titipan dari pihak Mustafa ke para fraksi,” bebernya.

Setelah itu lanjut dia, dirinya diperintah oleh Raden Sugiri bersama Indra Jaya untuk berangkat ke rumah makan. “Dan kami menunggu sampai larut malam dan Raden Sugiri menyampaikan bahwa mau ada bingkisan dari Mustafa dan nanti yang bawa Bunyana kakak Mustafa,” ujarnya.

Dalam penyampaian Raden Sugiri itu, dirinya tidak mengetahui secara pasti berapa nilai bingkisan dari Mustafa yang akan diberikan ke dirinya. “Secara gamblang saya nggak tahu. Ada menyebutkan angka Rp2 miliar. Mungkin iya nyebut. Saya lupa pak persisnya saya lupa,” katanya.

Usai memberikan penyampaian itu, Raden Sugiri pun pergi. Lalu dirinya bersama dengan Indra Jaya masih diperintahkan untuk menunggu Bunyana terlebih dahulu. “Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari Bunyana pun datang. Bunyana pun menyampaikan bahwa titipannya belum ada,” kata dia.

Tak lama dari pertemuan malam itu, dirinya kembali dihubungi oleh Raden Sugiri. Disuruh untuk merapat ke rumahnya. “Sesampai disana saya diberi uang yang sudah dibungkus kresek hitam. Katanya ini untuk fraksi PKS. Untuk jumlah kurang tahu. Tapi banyak ratusan juta,” jelasnya.

Lanjut Ghofur, dihitung-hitung uang yang diberikan ke dirinya itu sebesar Rp230 juta. Dan uangnya dibagikan untuk para anggota fraksi PKS. “Memang setiap orang itu berbeda-beda penerimaannya. Yang pasti saya sampaikan ke para anggota bahwa ini ada titipan. Dari penyerahan itu dirinya mendapat Rp60 juta dan diterima cuma Rp30 juta. Sedangkan untuk APBD perubahan saya dapat Rp37 juta,” bebernya.

Masih kata Ghofur, selain mendapatkan uang pengamanan penandatanganan, dirinya juga pernah ditawari sejumlah proyek oleh Mustafa. “Pernah dipanggil sama Mustafa ke rumahnya bersama dengan Ketua DPC PKS Lamteng yang saat itu dijabat oleh Anton Ramdani. Disampaikan dia apabila ingin akses dapat pekerjaan di Lamteng silahkan hubungi Taufik Rahman saja,” ujarnya.

Dari pertemuan itu lanjut Ghofur, Mustafa tak membicarakan fee. Usai mendapat isyarat dari Mustafa itu, Ghofur pun langsung menghubungi Taufik Rahman. “Ya saya ceritakan. Dan dia bilang mau titip (fee) berapa. Nanti kalau ada langsung kasih ke Andre Kadarisman saja,” ucapnya.

Menurut Ghofur, penyampaian dari Taufik untuk titip (fee) berapa itu senilai Rp1 miliar. Namun dalam penjelasan Taufik itu dirinya belum mengetahui nilai proyek yang akan didapatkan nanti. 

“Sampai saat belum dikasih (proyeknya). Penyerahan itu nggak sampai Rp1 miliar ke Andre. Hanya Rp600 juta. Lalu ada lagi penyerahan uang Rp150 juta. Proyek enggak dapat uangnya juga sampai saat ini belum kembali,” pungkasnya. (mlo/)




Pos terkait