Kajian Kitab Sullamut Taufiq Karangan Syekh Nawawi Albantani [Bagian 5]

  • Whatsapp

Oleh : PAIROZI, S,Ag. M.Pd.I

FASAL :   في واجِباتِ القَلْب (KEWAJIBAN HATI)

Bacaan Lainnya



Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia adalah hati (Qalbun/Kidbun), Karena dengan hati manusia akan mengetahui  Allah SWT sebagai Tuhannya, beramal untuk-Nya, dan berusaha menuju kepada-Nya. Anggota badan hanya menjadi pengikut dan pembantu hati. “Man ‘arofa Nafsahu ‘arofa Rabbahu” Barangsiapa mengetahui hakekat hatinya, ia akan mengetahui hakekat Rabb-Nya. Kibdun atau hati dari sudut pandang ilmu kesehatan diantara fungsi hati adalah:

  • Membersihkan tubuh dari zat-zat berbahaya dalam darah, termasuk obat-obatan dan alkohol dan memecah lemak jenuh dan menghasilkan kolesterol
  • Menghasilkan protein darah yang membantu koagulasi, pengangkutan oksigen, dan fungsi sistem kekebalan tubuh, menghasilkan empedu, zat yang diperlukan untuk membantu mencerna makanan
  • Menyimpan gula (glukosa) dalam bentuk glikogen dan menyimpan kelebihan nutrisi dan mengembalikannya sebagian ke aliran darah

Jaringan fungsi hati terdiri dari banyak unit sel hati, itu dinamakan lobulus. Lalu, ada banyak kapiler (pembuluh darah terkecil) pengangkut darah dan empedu yang membentang diantara sel-sel hati ini. Darah yang berasal dari organ pencernaan mengalir ke pembuluh utama hati dengan mengangkut nutrisi, obat, dan juga zat beracun.

Begitu mencapai hati, zat-zat ini diproses, disimpan, diubah, dimurnikan, dan disalurkan kembali kedalam darah atau dilepaskan ke usus untuk digunakan dalam proses pencernaan.

Dengan cara ini, hati ini bisa memurnikan darah dari alkohol dan terhindar dari produk sampingan hasil pemecahan obat. Hati juga memecah sel-sel darah merah yang berusia tua atau rusak.

Bersama vitamin K, hati memproduksi protein yang penting dalam pembekuan darah.

Dalam sudut pandang agama islam hati manusia itu memiliki komponen sifat hidup dan mati. Dalam tataran ini, hati manusia diklasifikasikan menjadi tiga :

  1. Qolbu Shahih (hati yang suci). Yaitu hati yang sehat dan bersih dari setiap nafsu yang menentang perintah dan larangan Allah SWT, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya.
  2. Qolbun Mayyit (hati yang mati). Yaitu hati yang tidak pernah mengenal Ilahnya, Akan tetapi, ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginannya. 
  3. Qalbun Maridl. Yaitu hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit. 

Singkatnya, hati merupakan sifat (tabiat) batin manusia. Sehingga, tidak berlebihan, apabila kita dituntut untuk selalu menjaga dan memelihara hati dari sesuatu yang dapat mengotorinya. Karena hati apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk.

  1. Unsur-Unsur Iman – Di antara kewajiban-kewajiban hati adalah : Iman kepada Allah SWT, Iman kepada apa yang datang dari Allah SWT, Iman kepada utusan Allah SWT, Iman kepada apa yang datang dari utusan Allah SWT. Tashdiq (menerima dan tunduknya hati terhadap apa yang sudah diketahui dari agama secara pasti) yang bermakna iman kepada ke empat hal tersebut.
  2. Ikhlas – Ikhlas yaitu amal dalam ketaatan yang hanya untuk Allah SWT saja, menyesali kemaksiatan karena maksiat bertentangan dengan perintah Allah Azza Wajalla.
  3. Tawakal – Tawakkal yaitu berpegang teguh kepada Allah SWT dalam urusan rizki, keselamatan dari bahaya dan selain hal itu, setelah berusaha dan berdoa. Dengan menghadirikan muroqobah lillah/merasa diawasi oleh Allah SWT, yaitu melanggengkan rasa kehadiran Allah SWT yang selalu mengawasi, mengetahui, melihat dan mendengarnya. Ridho pada keputusan Allah SWT.
  4. Husnudzon (Berbaik Sangka) – Husnudz dzon billah/berbaik sangka kepada Allah SWT dengan cara mengingat-ingat banyaknya kebaikan yang diberikan, dan mengharap kebaikan yang serupa diwaktu mendatang. Husnudz dzon kepada makhluk dengan tidak berburuk sangka tanpa adanya indikasi yang mencukupi secara syar’i. Mengagungkan syi’ar Allah SWT, dengan mengagungkan setiap hal yang diagungkan oleh syari’at.
  5. Cara Bersyukur – Bersyukur atas nikmat Allah SWT, maksudnya adalah tidak mengunakan kenikmatan untuk bermaksiyat kepada Allah SWT.
  6. Sabar – Bersabar dalam menjalankan apa yang Allah SWT wajibkan dan atas apa yang diharamkan Allah SWT atau dilarang. Bersabar terhadap ujian Allah SWT dengan cara ujian tersebut tidak mendorongmu untuk berbuat maksiat.
  7. Mengontrol Nafsu Dan Setan – Mencurigai nafsu dengan memperhatikan apa yang diperintahkan olehnya, khawatir jika perintah tersebut adalah tipuan yang akan membawa kita pada hal yang dilarang. Tidak ridho kepada nafsu dengan mengingat ingat kesalahannya. Membenci syetan dengan cara berselisihinya. Membenci dunia dengan tidak mengikuti apa yang dapat melalaikan dari taat kepada Allah SWT. Membenci kemaksiatan dan ahlul maksiat dengan menjauh darinya.
  8. Cara Mencintai Allah SWT – Cinta kepada Allah SWT dengan cara menempatkan hati untuk beribadah kepada-Nya saja, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mencintai kalam-Nya dengan cara menjaga keagungan ayat-ayatnya, menghormati dan beramal dengannya. Mencintai utusan-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW, dengan cara beriman kepadanya, menghormatinya dan sempurna dalam mengikutinya. Mencintai Nabi-nabi Allah SWT dengan cara beriman kepada mereka dan menghormati mereka. Mencintai para sahabat dengan mengakui kelebihan mereka sebab mereka lebih dahulu masuk islam dan kemuliaan mereka sebab bersahabat dan menolong beliau dalam menyampaikan agama. Mencintai keluarganya Nabi dengan menjaga mereka, karena mereka adalah keluarganya Nabi dan kerabatnya. Mencintai kaum muhajirin dan anshor. Mencintai orang soleh dengan dengan menapaki uswah hasanah Dari mereka. Wallohu a’lam.


Pos terkait