Kawanan Gajah Terkepung di Bendungan PLTA TEP

  • Whatsapp
Tim gabungan melakukan penggiringan gajah, namun sempat kesulitan saat kawanan gajah masuk ke bendungan PLTA TEB. - Foto Doc Satpol-PP

Medialampung.co.id – Petugas gabungan yang terdiri dari Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS), Polsubsektor Suoh, Bhabinkamtibmas, Bhabinsa, Polhut dari KPH II Liwa, aparat pemerintahan Kecamatan Suoh, aparat pemerintahan pekon dan masyarakat serta tiga orang mahout (pawang gajah) masih kesulitan untuk melakukan penggiringan terhadap 12 ekor gajah liar yang menjadi teror bagi warga di daerah itu sejak beberapa minggu terakhir.

Meski sudah menjauh dari permukiman warga Pekon Roworejo dan Pekon Banding Agung, namun posisi kawanan gajah masih belum seutuhnya aman, mengingat masih berada di bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tanggamus Elektrik Power (TEP), dan dalam proses penggiringannya telah melibatkan anggota Polres dan Kodim Tanggamus.

Bacaan Lainnya



Kasi Trantib Kecamatan Suoh Lekat Apriadi mengatakan, tim gabungan terus melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan kawanan gajah tersebut ke habitat aslinya yakni TNBBS, bahkan tim bekerja mulai pagi hingga sore, namun tim mendapatkan sedikit kesulitan saat kawanan gajah tersebut masuk ke dalam bendungan.

“Gajah berada ditengah-tengah bendungan PLTA TEP, tidak berani untuk naik kedaratan karena ditahan oleh kedua masyarakat baik dari Lambar dan Tanggamus. Mereka saling bertahan agar gajah tersebut tidak mengarah ke tempat Lambar dan Tanggamus,” ungkap Lekat.

Melihat situasi tersebut, petugas mengajak kedua belah pihak tidak terpancing emosi dan menahan diri dan mengajak untuk berunding dan mengambil sikap untuk menyelamatkan gajah keluar dari bendungan.

“Kedua belah pihak sepakat untuk menahan diri dan membiarkan gajah untuk keluar dari air untuk menghidari gajah mengalami stres jika terlalu lama di air, kemudian membiarkan gajah untuk naik ke darat beristirahat dan makan sebelum dievakuasi,” ujarnya.

Dalam posisi tersebut, petugas memantau pergerakan gajah dan pergerakan massa dari kedua belah pihak Lambar dan Tanggamus. “Hasil kesepakatan gajah akan dievakuasi atau digiring melalui jalur Tanggamus karena lebih dekat dengan Taman Nasional yang berjarak hanya 3,5 Kilometer, dibandingkan melalui Lambar yang berjarak 25 Kilometer dari Taman Nasional,” jelasnya.

Petugas juga terus menghimbau kepada msyarakat Tanggamus agar menjaga rumah yang akan dilalui gajah untuk membuat api didekat rumahnya saja. “Posisi gajah di sekitar bendungan tersebut sudah tiga hari, dan kami berharap proses penggiringan berjalan lancar, dan kawanan gajah tersebut bisa kembali ake habitat aslinya, sehingga tidak menjadi teror lagi bagi warga karena telah menimbulkan banyak kerugian materi,” kata dia. (nop/lus/mlo)



Pos terkait