Ketersediaan Obat Pasien Covid-19 di Lambar Kritis

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Beberapa varian obat-obatan untuk penanganan pasien terkonfirmasi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Lampung  Barat saat ini dalam masa kritis.

Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan ketersediaan dari beberapa varian obat-obatan.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinkes Lambar dr. Widyatmoko Kurniawan, Sp.B., saat dikonfirmasi mengungkapkan, untuk varian obat-obatan  pasien Covid-19 yang saat ini stoknya sangat-sangat terbatas yakni obat anti virus.

”Kami sudah berupaya maksimal untuk mendapatkan obat mengatasi infeksi virus, dengan memesan langsung ke perusahan-perusahaan penyedia, maupun melalui Dinas Kesehatan Provinsi dan hingga saat ini belum juga datang. Ada informasi masih menunggu HET (harga eceran tertinggi)  terbaru, di e-katalog saja belum ada yang tayang,” ungkap Wawan—sapaan Widyatmoko Kurniawan.

Dikatakannya, pasien terkonfirmasi Covid-19 di Lambar  biasanya diberikan obat anti virus atau obat mengatasi infeksi virus berupa Oseltamivir,  dan pihaknya juga telah memesan merk lain  yakni Favipiravir, namun hingga saat ini obat-obatan yang sangat dibutuhkan dalam mempercepat penyembuhan pasien terkonfirmasi Covid-19 tersebut belum tersedia.

”Jadi saat ini hanya pasien-pasien yang memiliki gejala berat saja yang diberikan obat tersebut, karena memang stoknya sudah sangat-sangat terbatas. Namun perlu diketahui obat-obatan tersebut tidak secara spesifik menyembuhkan corona, yang terpentingnya adalah meningkatkan daya  tahan tubuh dari pasien penderita corona tersebut,” kata dia.

Sementara terkait dengan ketersediaan obat-obatan lain seperti antibiotic, vitamin dan obat lainnya yang dibutuhkan pasien, menurut Wawan, saat ini stok masih aman.  ”Kami berharap stok obat-obatan anti virus bisa kembali tersedia, dan kami akan terus berupaya untuk mendapatkan obat-obatan tersebut,” imbuhnya. 

Untuk diketahui, pasien  terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Lampung Barat hingga  Sabtu (17/7) mencapai 1.429 kasus, selesai menjalani isolasi 940 orang, dengan angka kematian sebanyak 62 orang. 29 pasien menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Alimuddin Umar, namun lebih banyak menjalani isolasi mandiri di rumah dengan bergejala  ringan dan sedang yang juga memerlukan penanganan khususnya obat-obatan. (nop/mlo)


Pos terkait