Ketua Umum SNNU Lantik Edarwan Sebagai Ketua SNNU Lampung

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Pelantikan pengurus Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Provinsi Lampung Periode 2021-2025 dilaksanakan di Pantai Duta Wisata, Jalan Laksamana R.E.Martadinata, Telukbetung Barat (TbT) Bandarlampung, Rabu (17/3).

Ketua Serikat SNNU Provinsi Lampung, Edarwan usai dilantik mengucapkan rasa syukur dalam mengemban amanah membangun nelayan di Provinsi Lampung, selain itu kepada seluruh jajaran juga pengurus pusat yang telah memberikan kepercayaan menjadikan sebagai ketua SNNU Lampung.

Bacaan Lainnya

“Ini adalah satu amanah, kami ingin menjalankan amanah ini demi memajukan nelayan sejahtera dan rakyat Lampung Berjaya,” kata Edarwan.

Ia juga meminta arahan dan juga dukungan jajaran pusat untuk terus memajukan kesejahteraan di Provinsi Lampung.

“Kami tidak akan mampu bekerja tanpa ada satu dukungan dari instansi-instansi terkait tanpa ada kemitraan yang baik maka semua tidak akan berarti apa-apa, kita harus bersinergi membangun nelayan di Lampung lebih maju lebih berinovasi,” harap Edarwan.

Menurutnya, tentu kedepannya juga akan ada komitmen untuk bekerja sama dengan seluruh stakeholder dapat mewujudkan suatu pencapaian yaitu mensejahterakan nelayan dan mencari karya nyata bagi nelayan. 

“Terciptanya kesejahteraan tersebut diawali dengan pembekalan berupa karya nyata sesuai arahan Pak Ketua Umum,” jelasnya.

Sementara,Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung Prof. KH. Muhammad Mukri juga berpesan untuk para peserta yang baru dilantik mewujudkan suatu karya nyata bagi terwujudnya nelayan Lampung sejahtera dan mendukung visi misi Lampung Berjaya.

“Untuk yang baru dilantik diharapkan bisa mewujudkan karya nyata yang bisa dilihat mata dan bisa di sentuh. Saya ingin bisa menghadirkan kesejahteraan khususnya nelayan, Bisa mengedukasi Nelayan yang sejahtera,” harap Mukri.

Ia juga mengatakan bahwa, Provinsi Lampung memiliki pantai yang panjang dengan cakupan penduduk pesisir sebagai nelayan.

“Maka, ketika kita semua niatkan untuk mempunyai kejayaan tentu merupakan ilmu utama Kompak bahu membahu memajukan daerah,” tandasnya.

Kepala Biro Administrasi Pembangunan (Adbang) Setdaprov Lampung Zainal Abidin dalam sambutannya menyampaikan, harapan semoga Keberadaan SNNU bisa mengemban aman demi membangun Provinsi Lampung menjadikan nelayan sejahtera menuju rakyat Lampung Berjaya.

Pemerintah daerah tentu menyambut baik agar nelayan di Lampung maju sejahtera,kata dia.

Sementara, Ketua Umum Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama menyatakan bahwa saat ini Pemerintah merencanakan membuat kebijakan guna membuka keran impor garam lebih besar untuk memenuhi kebutuhan garam di dalam negeri.

Kebijakan pemerintah ini tentu menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk SNNU.

“Ya, SNNU menolak karena Badan Otonom Nahdlatul Ulama ini menilai kunci swasembada garam adalah pada para petani, bukan di pundak para importir garam.Ada apa ini bisa terjadi, Indonesia memiliki laut yang luas dibandingkan negara Singapura atau Malaysia, dimana salahnya hingga harus impor,” tegas Ketua Umum SNNU Witjaksono.

Oleh Karena itu, Serikat Nelayan NU meminta pemerintah mulai serius memperhatikan para petani garam. Bukan sebaliknya, memanjakan bos bos pengimpor garam.

“Mewujudkan program kedaulatan pangan tentu bisa dimulai dengan tidak lagi mengimpor garam. Mari kita memperhatikan para petani garam, benahi nelayan dengan kemampuan dengan sentuhan SNNU di Lampung,” ajaknya.

Lanjutnya, Petani yang bergerak pada sektor riil ini menjadi penopang utama pada situasi krisis, ketika ekonomi mulai tumbuh mengapa malah dilupakan, berikan pembekalan ilmu dalam menggali potensi bagi nelayan.

Ia juga mengatakan telah banyak mendengar keluhan para petani garam terkait rencana mendatangkan garam dari luar negeri. Bahkan nasib petani garam saat ini berada pada titik nadir. “maka harus kita benahi melalui tangan terampil karya nyata bagi jajaran pengurus SNNU di Lampung,” harapnya.

Misalnya, petani di Jawa Barat mengeluhkan bahwa harga garam di petani mencapai titik yang sangat memprihatinkan yakni Rp.100 per kilogram.

“Kemungkinan di Lampung sama keluhannya,” pungkasnya. (ded/mlo)


Pos terkait