Konflik Gajah-Manusia di Lambar ‘Meledak’ Lagi, 50 Rumah dan Gubuk Dirusak, Puluhan KK Terpaksa Mengungsi

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Konflik gajah dan manusia di Kabupaten Lampung Barat, tepatnya di Pekon Bumi Hantatai Kecamatan Bandarnegeri Suoh (BNS) terjadi lagi. Sebanyak 50 rumah dan gubuk milik masyarakat porak-poranda akibat amukan gajah, sementara puluhan kepala keluarga (KK) terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Tanda-tanda akan terjadi konflik tersebut, sudah ada sejak Senin (2/11) lalu, dimana kawanan gajah yang diketahui berjumlah belasan ekor tersebut mulai mendekati pemukiman warga dan puncaknya terjadi pada Jumat-Sabtu (7-8/11), dengan titik terbesar kerusakan terjadi di Talang Masjid/Talang Gajah, dengan jumlah kerusakan mencapai 17 rumah.

Bacaan Lainnya

Kepala Resort Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Suoh, Sulki mendampingi Kepala Bidang TNBBS Wilayah II Liwa Amri mengatakan, pada saat kawanan gajah tersebut mulai turun dari TNBBS dan mendekati pemukiman Talang Masjid/Talang Gajah tersebut, pihaknya telah turun bersama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, untuk mengimbau masyarakat khususnya perempuan dan anak-anak untuk mengungsi ke tempat sanak saudara di permukiman yang lebih aman untuk sementara waktu.

Sementara itu, untuk laki-laki jika tidak bersedia untuk mengungsi sementara diminta untuk tetap berjaga-jaga, khususnya pada sore dan malam hari dengan menyalakan api unggun, agar kawanan gajah tersebut tidak mendekati permukiman atau Talang, hanya saja sebagian besar untuk laki-laki juga ikut meninggalkan permukiman Talang Masjid/Talang Gajah tersebut, sehingga kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh kawanan gajah untuk memasuki area permukiman dan merusak rumah dan gubuk.

”Untuk diketahui berdasarkan informasi dari para sesepuh, daerah itu merupakan jalur perlintasan gajah, awalnya kami sudah mengingatkan agar perempuan dan anak-anak mengungsi sementara, dan laki-laki tetap berjaga-jaga dengan menyalakan api, namun tetap meninggalkan permukiman sehingga kawanan gajah datang dan merusak sebagian besar rumah dan gubuk yang ada di talang tersebut,” ungkap Sulki.

Puluhan gubuk dan rumah lainnya, kata dia, yang lebih dulu dirusak oleh kawanan gajah berada berpencar, dan itu baru diketahui setelah beberapa hari kemudian, selanjutnya ada beberapa rumah dan gubuk juga memang dalam kondisi kosong karena masih ditinggalkan oleh pemiliknya pulang ke Pulau Jawa.

”Lokasi puluhan gubuk dan rumah lainnya yang turut dirusak kawanan gajah itu terpisah, banyak yang sedang ditinggalkan ke pulau Jawa oleh pemiliknya. Untu kerusakannya rata-rata merusak dinding yang bermaterial kayu atau bambu, kawanan gajah tersebut masuk dan mengacak-acak isi rumah seperti kasur, yang seperti kita ketahui kasur berbahan kapuk, sehingga kawanan gajah tersebut merusaknya untuk mengambil biji untuk dimakan,” kata dia.

Saat ini, kata dia, pihaknya bersama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas serta masyarakat masih terus berjaga-jaga, untuk menghindari kawanan gajah tersebut masuk ke permukiman yang lebih besar dan bisa menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi.

”Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada, kemudian segera melaporkan kepada kami ketika memang melihat adanya pergerakan kawanan gajah tersebut, terlebih mengarah ke pemukiman sehingga bisa segera dilakukan penghalauan,” pungkasnya. 

Sementara itu, Peratin Bumi Hantatai Syahrudin mengimbau kepada masyarakat khususnya yang bermukim di daerah-daerah yang menjadi jalur perlintasan gajah untuk lebih waspada, dan untuk keselamatan agar mengungsi ke tempat sanak saudara untuk sementara waktu.

”Semoga kawanan gajah tersebut bisa segera kembali ke habitat aslinya, dan semoga tidak ada korban jiwa dan kerugian lebih besar lagi. Saya mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan akan lebih baik untuk mengungsi sementara agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuhnya. (nop/mlo)


Pos terkait