Kopista Indonesia Bina Petani Kopi Lambar Menuju Promin 2 Ton

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Dalam upaya meraih misi Satu Hektar Kebun Kopi hasilkan buah Dua ton (Promin2ton) Gerakan Swadaya Sosial (GSS), Kabupaten Lampung Barat (Lambar) yang tergabung dalam wadah Kopista Indonesia, melakukan pembinaan kepada masyarakat tani tersebar di Sepuluh Kecamatan di Bumi Beguai Jejama Sai Betik tersebut.

Inisiator GSS Irwansyah, S.P., Supriono, S.T., dan Karjo Matajat, menyebutkan era sekarang ini petani harus mampu merubah mindset, sistem pengelolaan perkebunan kopi, agar tidak sepenuhnya bergantung pada pengolahan secara tradisional. 

Hal itu dipandang penting diterapkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi utamanya tentang hasil produksi.

Ditegaskan Irwansyah sekarang petani kopi jangan hanya bergantung terhadap harga jual kopi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan, melainkan justru fokuskan terhadap hasil produksi.

Sebab jika hanya berpangku pada harga sebagai perimbangan terkait modal dan kebutuhan, hal itu tidak bisa diharapkan, karena terkait itu tidak bisa ditentukan apalagi nominal yang menetap seperti harapan petani, lantaran dipengaruhi  harga dunia.

“Jika hasil panen lebih baik dari biasanya,  meskipun harga rendah keuntungan tetap berpihak ke petani, jadi di kondisi ini kita justru lebih fokus pada peningkatan hasil,” ajaknya, 

Oleh sebab itulah GSS Lambar bertekad mengedukasikan kepada para petani kopi tentang bagaimana pengolahan lahan perkebunan untuk mencapai hasil yang maksimal

seperti pemahaman tentang tata cara penataan batang kopi sedetail mungkin untuk bisa menghasilkan buah yang lebat, dengan target Satu Hektar Dua Ton.

“Capaian hasil Satu Hektar Dua Ton tersebut, bukan isapan jempol semata, melainkan sudah banyak buktinya, dengan melakukan pola perawatan yang tepat, mulai dari pemeliharaan batang hingga pemupukan,” sebutnya. 

Dipaparkan Irwansyah mantan anggota Legislatif Lambar tersebut, ada Tiga  langkah yang wajib dilakukan petani dalam pengelolaan kebun, pertama pemangkasan yang tepat, kedua pemupukan yang cukup, dan penyiapan bahan ranting.

“Jika sahan satu hektar mambo hasilkan Dua ton, walaupun harga kopi Rp15 ribu/kg, petani masih mendapatkan hasil sesuai UMP,” jelasnya. 

Diulas, pada dasarnya gerakan kopista lambar merupakan grup yang memiliki visi meningkatkan produktivitas petani kopi lambar, sebagai langkah dukungan terhadap produktivitas kopi lambar yang saat ini sudah lebih dari rata-rata nasional. 

Dengan misi, dalam produktivitas lahan minimal 2 ton/hektar, 2022, dan minimal hasil Tiga ton 2025.

“Jika di Vietnam bisa dan di Brazil bisa, di Kabupaten Lambar juga harus bisa, dan ini tidak ada unsur politis melainkan semata-mata untuk kesejahteraan bersama petani,” tandasnya.  (rin/mlo)



Pos terkait