Korban Pemerkosaan Alami Trauma yang Mendalam

  • Whatsapp
Adi Wijaya, SH, Pengacara WA dan EPM saat mendampingi EPM untuk melakukan visum di RSUD ZAPA Waykanan

Medialampung.co.id – Ironis, WA (12) salah satu korban pencabulan yang dilakukan DD dan DN ternyata juga pernah dicabuli oleh tersangka RH.

Hal itu terungkap dari penjelasan selaku kuasa hukum WA, yakni Adi Wijaya, SH., saat mendampingi kliennya menghadap penyidik Polres Waykanan.

Bacaan Lainnya

Adi Wijaya mengatakan, korban dicabuli oleh RH pada Oktober 2021 lalu, tapi saat itu korban tidak berani cerita kepada orang tuanya, hingga korban mengalami pencabulan untuk yang kedua kalinya.

WA kembali menjadi korban pemerkosaan saat ia dan ketiga rekannya bertemu tersangka DN dan DH di Gerbang Kampung Kota Jawa, kedua tersangka mengancam WA dan memperkosanya secara bergiliran, sedangkan saat itu rekan korban berhasil melarikan diri.

Merasa aksinya berhasil, kedua pelaku kemudian kembali melancarkan aksinya, kali ini keduanya melampiaskan nafsu bejatnya terhadap EPM (16) siswi Kelas 2 salah satu SMK di negara Batin yang ternyata masih saudara sepupu WA.

EPM ini diperkosa oleh DD dan DN disaat ia pulang dari menonton turnamen Bulutangkis di Kampung Kuta Jawa Negara Batin, kedua pelaku menghadang dan mengancam EPM.

“Untuk WA hingga kini masih belum bisa diajak ngobrol karena masih shock dan trauma. Hanya saja setelah mengetahui kalau EPM mengaku dan mengadu ia dengan susah payah menceritakan kalau dirinya juga sudah menjadi korban RH, DD dan DN,” papar Adi yang didampingi orang tua EPM pada saat memberikan pendampingan terhadap korban EPM yang sedang melakukan visum di Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin Pagar Alam (RSUD ZAPA), Senin (22/11).

“Dari ketiga pelaku, Polisi baru berhasil mengamankan DD, sedangkan DN dan RH warga Kampung Rumbih Masih dalam pencarian Pihak kepolisian. Mari kita kawal kasus ini bersama-sama, kami dan keluarga percaya akan dapat mengusut dan menangkap kedua pelaku, sebab kalau tidak khawatirnya akan ada korban lainnya lagi,” imbuhnya. 

Terpisah, Kepala Sekolah SMP 2 Gisting Jaya, Harisun membenarkan kejadian tersebut dilakukan di sekolahnya, hanya saja karena malam hari penjaga sekolah tidak mengetahuinya. 

“Kejadian malam hari, sehingga penjaga sekolah kami tidak tahu, apalagi memang mungkin para pelaku sudah mengetahui kalau Sekolah kami itu di malam hari sangat sepi dan jauh dari keramaian,” tegas Harisun.(sah/mlo)

Pos terkait