Krisis Biji Kopi Dunia Akibat Kemarau dan Cuaca Dingin (Frost)

  • Whatsapp
Oleh : Irwasyah, S.P., Kopista Indonesia, Kabupaten Lampung Barat 

Medialampung.co.id – Hampir 70% biji kopi dunia dihasilkan oleh empat negara, yaitu Brazil 40%, Vietnam 13%, Indonesia 7%, Kolombia 6%. Tingkat produktivitas perkebunan kopi di ke 4 negara tersebut terutama Brazil, tentu akan sangat mempengaruhi tingkat ketersediaan kopi dunia.

Sebagai contoh, kejadian bencana alam yang dialami negara Brazil sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia yaitu musim kemarau dan udara dingin ekstrim, menyebabkan penurunan produksi yang cukup besar. Kejadian di Brazil tentu akan sangat mempengaruhi jumlah stok biji kopi dunia.

Bacaan Lainnya

Brazil pada musim 2020/2021 dilanda kekeringan (Kemarau) terparah sejak beberapa dekade ini. Kelembaban tanah di wilayah perkebunan kopi seperti Sao Paulo, Triangular Mineira dan Minas Gerais hanya berkisar 20%. Jauh dari standar kelembaban tanah yang baik untuk tanaman kopi yaitu 60%.Dampak kekeringan ini menurunkan produksi kopi Brazil tahun 2021 ini 25% hingga 30% (versi petani kopi).

Badan Tanaman Brazil (Conob) pada 25 Mei lalu memperkirakan produksi kopi Brazil turun sebesar 23% pada panen 2021 ini level terendah dalam empat tahun terakhir menjadi 48,8 juta karung. Penurunan sebanyak ini adalah akibat kemarau 2020, atau turun sebanyak 720.000 ton (setara total produksi kopi Indonesia)

Kekeringan pada tahun lalu bagi Carlos Mera selaku kepala penelitian pertanian Rabobank international sangat berpengaruh besar pada persediaan biji kopi dunia, jikapun tahun 2022 Brazil panen besar, pembeli tetap akan sulit memenuhi kuota, sebab menurut pengamatan nya tahun ini Brazil panen kopi hanya setengah dari tahun lalu.

Salah satu akibat nya, terdampak pada persediaan green beans negara pengkonsumsi kopi terbesar dunia yaitu Amerika Serikat. Diman persediaan biji kopi negara itu turun sebanyak 18% dari tahun lalu atau terendah sejak 1960.

Penurunan ini selain dampak turunnya produksi kopi Brazil juga sebagai dampak dari turunya ekspor kopi dari Kolombia. Keadaan ini lebih disebabkan adanya kekisruhan politik akibat naiknya biaya ekspor.

20 juli 2021 serangan frost melanda Brazil. Menurut badan klimatologi merupakan suhu terdingin dalam 27 tahun ini. Minas Gerais adalah pemasok 70% kopi arabika di Brazil, terserang frost dengan kerusakan tanaman kopi yang cukup signifikan saat ini.

Kerusakan ini meliputi tidak kurang dari 60% luas areal perkebunan kopi Brazil. Bandingkan pada serangan embun beku sebelumnya yang hanya meliputi 10% dari areal tanaman kopi Brazil.

Perkiraan awal para analisis bisnis, pengaruh embun beku akan mengurangi panen di Brazil sebanyak 2 juta kantong setara 120.000 ton. 

Sedangkan menurut beberapa pengamat pertanian, datangnya serangan embun beku (frost) pada 20 juli lalu membuat perkiraan penurunan besar produksi kopi brazil untuk tahun 2022. 

Penurunan cenderung akan lebih besar lagi dari penurunan akibat kemarau. Bahkan dapat lebih dari 30% total produksi kopi Brazil dengan melihat tingkat kerusakan yang terjadi pada pusat-pusat perkebunan kopi di Brazil terutama negara bagian Minas Gerais.

Banyak orang yang tak mempercayai atau menutupi situasi ini. Namun penilaian fakta di lapangan tentu akan menunjukkan keadaan yang jauh lebih buruk dari yang mereka sangkakan 

Kopi robusta merupakan biji kopi yang juga banyak di konsumsi di dunia, terutama oleh perusahaan-perusahaan kopi instan. 

Berdasarkan data internasional yang berhasil dirangkum Kopista Kabupaten Lampung Barat coffee Organization (ICO) secara global dari oktober 2020 hingga mei 2021 turun 4,2% menjadi 31,435 juta karung.

Penurunan robusta terjadi terutama akibat turunnya ekspor kopi vietnam dari januari – juni sebanyak 10,3% menjadi 843.319 MT. Vietnam adalah negara penghasil kopi robusta terbesar di dunia. 

Indonesia sebagai penghasil kopi robusta nomor 3 di dunia juga diperkirakan mengalami penurunan lebih dari 10% pada musim panen 2021 ini.

Menurut pengurus Kopista Kabupaten Lampung Barat Irwasyah, S.P., Dampak global kemarau parah pada 2020 dan serangan embun beku 2021 di Brazil akan berakibat terjadinya penurunan jumlah produksi kopi Brazil yang sangat besar. Brazil adalah negara penyumbang biji kopi terbesar dunia meliputi 40% dari total produksi dunia. Penurunan produksi akibat kemarau tahun ini serta kerusakan pada 60% perkebunan kopi di Brazil akibat serangan embun beku bulan juli ini akan sangat mempengaruhi stok kopi dunia. 

Apalagi bila kerusakan yang terjadi sampai mematikan tanaman kopi di perkebunan Brazil, maka tanaman harus diganti tanaman yang baru. Penanaman kembali tentu akan memerlukan waktu yang relatif lama, berkisar 3 hingga 4 tahun kedepan.

Dampak global akan mulai terasa pada akhir tahun 2021 ini. Akan terjadi kekurangan suplai biji kopi dunia yang signifikan. Krisis biji kopi akan terjadi lama, harga kopi global tentu akan terkerek naik. Tidak hanya untuk biji arabica namun tentu biji kopi robusta sebagai komoditas substitusi arabika. (rin/mlo)


Pos terkait