KSKP Bakauheni Amankan 18 Karung Daging Celeng

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – KSKP Bakauheni mengamankan daging babi (celeng) tanpa dilengkapi dokumen yang sah, saat melintas di Seaport Interdiction (SI) Bakauheni Lampung Selatan (Lamsel).

Daging celeng sekitar 1,26 Ton tersebut, diamankan pada hari Kamis (29/7) sekitar pukul 23.30 WIB. 

Bacaan Lainnya

Kepala KSKP Bakauheni Lamsel, AKP Ridho Rafika menjelaskan, penangkapan 18 Karung Daging celeng atau seberat 1,26 Ton tersebut, diamankan saat aparat polisi melakukan pemeriksaan rutin di SI Bakauheni Lamsel.

“Saat periksa kendaraan Bus PT.sami Jaya Putra warna merah nopol BE 7179 JA, kami menemukan 18 Karung Daging celeng. Tapi saat kami minta dokumen pengiriman, mereka tidak dapat menunjukkan, sehingga kami mengamankan barang bukti 18 daging celeng itu,” ungkap Ridho, Jumat (30/7).

Selain barang bukti daging celeng, sambung Ridho, pihaknya mengamankan dua orang yang diduga terlibat dalam pengiriman daging celeng.

Kedua pelaku yang diamankan yakni Sunardi (34) sebagai Sopir dan Bambang Irawan (31) sebagai Kernet, keduanya merupakan warga Desa Subik, Abung Tengah, Lampung Utara.

“Kami langsung menyerahkan barang buktinya ke Balai Karantina,” ucapnya.

Ridho menambahkan, berdasarkan keterangan dari kedua pelaku, barang bukti daging celeng itu diangkut dari toko di depan Pasar Sentral Kotabumi Lampung Utara, dari seorang laki- laki yang bernama SL. Rencananya, daging itu akan dikirim ke Tangerang.

“Pengakuan dari Sopir, Dari 18 karung itu, dibagi 2 pengirim, 5 karung diturunkan di depan loket PT. Sami Jaya Putera Bitung dan sisanya 13 karung diturunkan di Pinggir Jalan Cikokol Kota Tangerang Banten,” Katanya.

Hasil dari pengiriman daging celeng tersebut, lanjut Ridho, mereka mendapat upah sebesar Rp50 ribu per karung. “Kalau ada 18 Karung, berarti mereka mendapat upah sekitar Rp900 ribu,” bebernya.

Mantan Kapolsek Bangun Rejo Lampung Tengah ini menjerat keduanya dengan Pasal 88 huruf a dan c UU RI No.21/2019 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan.

“Mereka terancam dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,- (dua miliar rupiah),” pungkasnya. (yud/mlo)


Pos terkait