Lama Dinanti, Akhirnya Harga Pisang Kembali Naik

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Ditengah kondisi tidak stabilnya harga jual biji kopi robusta yang menjadi unggulan Kabupaten Lampung Barat (Lambar) masyarakat tani dibuat sedikit lega karena harga jual buah pisang yang mulai dikembangkan hampir merata di semua kecamatan merangkak naik.

Bahkan berdasarkan ifnormasi yang diterima salah satu pelaku pengebangan pisang dan bibit pisang Kabupaten Lampung Barat Boimin yang juga peratin Pekon Gedungsurian, Kecamatan Gedungsurian.

Bacaan Lainnya

Dibandingkan beberapa bulan sebelumnya harga jual pisang saat ini sudah mencapai Rp1.500/kg, artinya mengalami kenaikan dari harga terendah Rp800/kg. 

Namun, harga Rp1.500/kg saat ini belum merata melainkan dilihat dari kualitas biji pisang, seperti besaran buah dan kondisi bungkus dari awal yang bagus sehingga kulit buah pisang terlihat mulus dan segar. 

Pada kesempatan ini Boimin yang sudah menjual bibit pisang jenis Cavendish Nursery BM, hingga lintas pulau, tersebut mengatakan. Salah satu tips agar harga pisang terjaga, ialah dengan menjaga kualitas.  

Maka dari itu, saat ini yang tengah direncanakan pihaknya menciptakan petani milenial, yang bukan saja berperan dalam pengebangan dibidang penanaman, tetapi juga berperan mencari terobosan untuk pemasaran.

Dan rencana itu saat ini sudah ada titik terangnya dengan adanya kesepakatan penjualan seperti dicontohkannya yang terdekat di Bandarlampung, yang minta kuota tiga ton buah pisang per minggu. Dengan tawaran kualitas bagus.

“Inilah keuntungan pisang dari Lampung Barat seperti Cavendish Nursery MB, kualitasnya sudah memiliki label pisang ekspor. Artinya tinggal bagaimana pengembangan pemasarannya,” tandas Boimin.

Oleh sebab itu disampaikan Boimin sapaan akrab Mas Boi, petani pisang jangan pesimis dengan sempat anjloknya harga pisang. Lantaran penurunan harga jual bukan karena semata-mata kwalitas yang kurang. Hanya karena faktor kondisi dunia yang masih memberlakukan segala pembatasan untuk mencegah dan mengatasi pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. (r1n/mlo)


Pos terkait