Malam Hari, Aho Angkut Kembali Beras Rusak dari Gudang

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Lambatnya respon pihak terkait dalam menindaklanjuti dugaan kenakalan rekanan penyedia bantuan Covid-19, berupa 350 ton beras dan 140.000 ikan kaleng kemasan di Kabupaten Lampung Barat, menyebabkan pihak rekanan dalam hal ini Aho Wijaya leluasa dalam melakukan bersih-bersih. 

Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya, Selasa malam (10/6) diduga ada aktivitas pengangkutan beras dari gudang milik Aho, yang disinyalir merupakan beras berkualitas rendah yang akan dikirim kembali ke pihak Distributor di Lampung Tengah. 

Bacaan Lainnya



Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bansos Sembako tersebut Hi. Danang Hari Suseno, S.Ag, MH., dikonfirmasi Rabu (10/6) membenarkan informasi tersebut. Namun ia belum mengetahui persis jumlah beras yang mengalami kerusakan yang diangkut dan dikembalikan lagi ke pihak distributor untuk diganti dengan kualitas yang lebih bagus. 

“Iya, semalam memang diangkut dan dikembalikan dan akan ditukar dengan yang bagus, tapi jumlahnya belum tahu, kami akan ke gudang milik pak Aho lagi dan menanyakan berapa yang ditemukan rusak dan dikembalikan,” ungkap Danang. 

Danang melanjutkan, kemarin pihaknya juga  turun ke gudang pihak penyedia, dan sebelumnya pihak penyedia sudah memilah beras yang rusak akibat lembab, dari persediaan pesanan awal yang disiapkan sebelum lebaran sebanyak 92 ton dan 10 ton rusak, dan ada beberapa yang sudah terdistribusi.

“Untuk yang sudah terdistribusi saya memerintahkan pihak penyedia jasa untuk menarik kembali, dan mengganti yang rusak tersebut dengan yang bagus. Saya sudah mengambil sampel beras yang rusak tersebut. Pihak penyedia jasa siap sepenuhnya untuk mengganti yang rusak tersebut, ” imbuhnya. 

Diketahui, Pemkab Lampung Barat mengalokasikan Rp8,2 Milyar masuk dalam Biaya Tak Terduga (BTT) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Lambar tahun anggaran 2020 untuk pengadaan 350 ton beras dan 140.000 kaleng ikan kemasan, dan saat ini mulai dibagikan kepada 35 ribu keluarga penerima manfaat di kabupaten setempat. 

Anggaran fantastis tersebut menjadi pertanyaan, mengingat nilai satu paket berupa 10 kilogram beras dan empat kaleng ikan kemasan tersebut bernilai Rp200 ribu, dari 92 ton yang mulai didistribusikan sebanyak 10 ton mengalami kerusakan atau berkualitas rendah dan mirisnya sebagian sudah didistribusikan ke masyarakat. (nop/mlo)



Pos terkait