Medan Terjal Tak Halangi Satgas Halau Kawanan Gajah

Medialampung.co.id – Petugas Gabungan dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNNBS), Wildlife Conservation Society (WCS), Wildlife Response Unit (WRU), pawang gajah (Mahout), Aparat Kecamatan dan Satgas Konflik Gajah Suoh dan Bandarnegeri Suoh (BNS), Satgas Pekon serta masyarakat melakukan penggiringan terhadap 18 ekor gajah, yang meresahkan masyarakat Pemangku Sukaraja Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh,  Kamis (12/5). 

Kepala Bidang TNBBS Bidang Wilayah II Liwa Amri, SH, M.Hum., melalui Kepala TNBBS Resort Suoh Sulki, SH., mengungkapkan, penggiringan dilakukan sejak pagi, medan yang terjal berupa perbukitan menjadi kendala dalam proses penggiringan, namun itu tidak menyurutkan semangat petugas. 

Bacaan Lainnya


“Hari ini kami kami mulai melakukan penggiringan. Rute penggiringan cukup berat berupa perbukitan, itu cukup menguras tenaga, tetapi alhamdulillah petugas sangat bersemangat, untuk melakukan penggiringan agar kawanan gajah tersebut menjauh masuk ke dalam hutan rimba,” ungkap Sulki. 

Dalam rangka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kata dia, jelang penggiringan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan aparat pekon, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan tokoh masyarakat untuk sama-sama mengimbau masyarakat yang memiliki lahan garapan di jalur yang akan dilintasi dalam penggiringan untuk tidak melakukan aktifitas di lahan garapan terlebih dahulu. 

“Masyarakat yang punya lahan garapan di dalam kawasan TNBBS khususnya daerah Rowogiri, Talang Mbah Jael dan Cibatuan sudah kami imbau untuk turun ke tempat yang lebih aman terlebih dahulu selama proses penggiringan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan demi kelancaran penggiringan,” ujarnya. 

Seperti diketahui, sejak bulan April lalu masyarakat Pemangku Sukaraja Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh diresahkan oleh kawanan gajah yang masuk ke areal perkebunan mereka. 

Bahkan teror gajah ini telah menyebabkan banyak kerugian di masyarakat, dimana tanaman pisang yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat dirusak oleh satwa berbelalai tersebut. 

Konflik gajah dan manusia di wilayah itu juga menjadi permasalahan yang tidak kunjung terselesaikan, bahkan hampir terjadi sepanjang tahun. 

Konflik ini terjadi lantaran ketersediaan makanan satwa dilindungi tersebut di habitat aslinya telah habis, sehingga perkebunan masyarakat menjadi sasaran. (nop/mlo)


Pos terkait