Memasuki Panen Raya, Harga Jual Gabah Anjlok

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Kecamatan Suoh dan Bandarnegeri Suoh (BNS) Kabupaten Lampung Barat baru saja memasuki masa panen raya padi. Namun harga jual hasil panen dalam bentuk gabah kering giling (GKG) tampaknya belum menguntungkan petani bahkan sejak memasuki panen raya harga jual anjlok, hanya berkisar Rp4.200 per kilogram hingga Rp4.300 per kilogram. 

Camat Suoh Mandala Harto, SIP., mengungkapkan,  harga jual GKG anjlok begitu juga dengan harga jual dalam bentuk beras hanya Rp7.160 per kilogram, harga jual tersebut merupakan harga jual di tingkat petani, dan terjadi sejak memasuki panen raya yang saat ini sudah memasuki minggu ketiga dan sebagian sudah selesai melakukan panen.

Bacaan Lainnya


“Untuk harga jual GKG rata-rata turun sekitar Rp400 hingga Rp500 per kilogram dari harga jual sebelum masa panen raya berlangsung, tentu dengan anjloknya harga jual ini sangat merugikan petani, dan karena kebutuhan terlebih memasuki bulan suci ramadhan sebagian besar petani terpaksa menjual hasil panen,” ungkap Mandala. 

Dikatakannya, Kecamatan Suoh merupakan lumbung padi di kabupaten setempat, bahkan hasil panen tidak hanya dijual di Lambar melainkan dijual hingga kabupaten tetangga seperti Tanggamus, Pringsewu bahkan hingga Kota Metro. 

“Untuk potensi Kecamatan Suoh luas areal persawahan mencapai 2.057 hektar, memiliki produksi 5,5 ton GKG per hektar atau 11.000 ton lebih GKG untuk sekali panen. Sayangnya pada masa panen raya seperti sekarang ini harga jual GKG maupun beras kerap anjlok, dan tidak menguntungkan petani, padahal jika dilihat dari potensi yang ada tentunya sangat besar dan sudah seyogyanya mensejahterakan petani,” ungkapnya. 

Lebih lanjut Mandala mengungkapkan, Badan Usaha Milik Bersama (BUMDESMA) yang terdiri dari tujuh pekon setempat, yang sebelumnya direncanakan akan mulai  beroperasi,  yang bergerak di bidang pengolahan hasil panen petani, yang diyakini menjadi salah satu solusi untuk meminimalisasi fluktuasi harga jual belum bisa terwujud, lantaran pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19). 

“Permasalahan seperti ini (harga anjlok) kami yakin tidak terjadi ketika BUMDESMA  tersebut telah beroperasi, namun karena situasi yang memang tidak memungkinkan karena Pandemi-19 maka untuk penyertaan modal yang direncanakan tahun ini oleh tujuh pekon yang menjadi peserta batal dilakukan,” imbuhnya. (nop/mlo)




Pos terkait