Mengarifi Keyakinan “Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah”

  • Whatsapp
Miftahus Surur, S. Ag.,M. SI

(Oleh: Miftahus Surur,  S. Ag., MSI) 

Mungkin sebagian dari kita cukup akrab dengan suatu pernyataan bahwa “tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah.” Entah pernyataan itu datang dari seorang ustadz, muballigh, da’i atau mungkin juga sempat dibaca dalam beberapa buku. 

Bacaan Lainnya



Ungkapan tersebut tampaknya disandarkan atau merujuk pada sebuah hadits yang bermakna “tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipat gandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.” Nah, mari kita coba telaah satu persatu beberapa persoalan yang terkait dengan “hadits” tersebut.

Pertama, perlu diketahui bahwa hadits tersebut tidak tercantum dalam kitab-kitab hadits yang populer seperti Shahih Bukhori atau Shahih Muslim, melainkan hanya tercantum dalam kitab Syu’ab al-Iman Imam al-Baihaqi yang kemudian dinukil oleh Imam al-Suyuthi dalam kitabnya al-Jam’i al-Shaghir. 

Lalu kemudian, Imam al-Suyuthi sendiri menyatakan bahwa hadits tersebut adalah dha’if (lemah). Dan para ulama hadits sepakat bahwa hadits dha’if itu dapat diamalkan jika terkait dengan fadhailil a’mal (keutamaan amal) saja dan juga hadits itu hanya terkategori hadits dha’if biasa.

KH Ali Musthafa Ya’qub (Alm.), dengan menukil Imam Ibnu ‘Adiy menyatakan bahwa hadits tersebut dapat dikategori palsu dikarenakan didalam sanad perawinya terdapat nama Sulaiman bin Amr al-Nakha’i yang dianggap sebagai pemalsu hadits. Dan dengan alasan ini, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai suatu dasar hukum dan perbuatan. 

Kedua, lalu jika demikian apakah orang yang suka tidur di siang hari ramadhan itu tercela? Tentu saja tidak. Hanya saja ia menjadi tidak elok jika pada saat tidur lalu beralasan karena dasarnya adalah hadits di atas. Tetapi tidurnya dapat dimaklumi jika ia tidur dengan niat agar tidak berbuat maksiat, atau dengan niat agar pada malam harinya dapat mengamalkan qiyamullail, maka tentu saja ia sesuatu yang baik-baik saja. 

Dengan pengertian lain, ketika seseorang itu tidur di siang ramadhan, maka pahala yang ia dapatkan bukan karena tidurnya, melainkan karena pahala puasanya. 

Hal ini menjadi penting agar kita tidak menjadikan puasa ramadhan sebagai alasan untuk memperbanyak tidur atau bermalas-malasan sehingga menurunkan kualitas kinerja kita. 

Dari coretan yang sedikit ini, mudah-mudahan kita dapat meletakkan konteks tidur sesuai dengan kebutuhan yang sekedarnya saja, jangan sampai dijadikan dasar untuk melegitimasi perbuatan tidur hingga berjam-jam sebagai perbuatan yang berpahala besar. 

Tentu akan sangat memprihatinkan jika ada dari kita yang memicingkan mata tanpa batas waktu, bahkan baru bangun ketika 5 menit menjelang kumandang adzan maghrib. (MS)



Pos terkait