Mengenang Prof. KH. M. Sjafii, Seorang Ulama, Pejuang dan Teknokrat Asal Liwa

  • Whatsapp
Prof. KH. M. Sjafii Abdul Karim

Medialampung.co.id – Berdasarkan buku biografi nasional Jawa Timur (1985) halaman 46-50, dengan tim penulis Bambang Soeddharsono Singgih, Umiaati RA, Soearno, dan Sri Sutjiatingsih tertulis nama Prof. KH. Sjafii Abdul Karim. Sjafii lahir di Padang Jepang, Negara Batin (Liwa) Kewadanan Krui, pada 19 Desember 1909. Dilahirkan dari rahim ibu bernama Aminah dan ayah bernama Abdul Karim.

Ketika masih kecil, kehidupan Sjafii begitu memperihatinkan sepeninggalan ayahnya menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun dia masih beruntung karena keluarga besar (marga) bersedia menanggung semua kebutuhan pendidikannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di tanah kelahiran, dia berangkat ke Payakumbuh dan Padang Panjang untuk melanjutkan pendidikan. Kemudian Sjafii menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.

Selain bersekolah, Sjafii juga aktif berkegiatan selama menetap di Kairo. Pada tahun 1937, dia menjadi Imam Khotib tetap pada Masjid Besar Jami’ Jamil Zadah di Kota Bagdad, Irak. Pada tahun tersebut beliau mulai mengajar agama, pada Perguruan Agama Jami’ Syekh Abdul Kadir Jaelani di Bagdad sampai tahun 1950.  Tahun 1940, ia bersama-sama Pemuda Malaya mendirikan Perhimpunan Indonesia Malaya di Irak yang bertujuan ikut serta memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan rakyat Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1946, beliau terpilih menjadi Ketua I Perhimpunan Rakyat Muslimin seluruh Irak yang bernama Jami’atul Adatul Islamijah.

Tahun 1950 hingga 1959, Sjafii menjadi Pembantu Duta Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Republik Indonesia di Bagdad, Irak. Disebabkan terjadi pergolakan di Irak pada akhir tahun 1959, beliau pulang ke Tanah Air. Saudara dari Aboebakar dan Sofiah ini, lalu menjadi dosen pada IAIN Yogyakarta tahun 1960, tahun 1961 diangkat sebagai Dekan Fakultas Syariah IAIN Al Jami’ah cabang Surabaya, diangkat sebagai Dosen luar biasa Fakultas Tarbiyah cabang Malang dan Fakultas Tarbiyah wa Ta’lim NU cabang Malang (1961). Fakultas Kedokteran Gigi serta Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya dan FKIP Surabaya juga menetapkan Sjafii sebagai Dosen luar biasa Pendidikan Agama Islam pada tahun 1963.

Tahun 1965, beliau menjadi Ketua Lembaga Dakwah dan menjadi Pembantu Rektor I IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kemudian pada 1972, ayah lima putera/puteri ini ditetapkan sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya hingga beliau pensiun pada tahun 1975. “Hari ini, genap 110 tahun almarhum tuyuk KH. M. Sjafii Abdul Karim, semoga menjadi inspirasi dan menjadi motivasi generasi muda Lampung Barat untuk terus belajar dan meraih cita-cita”, ungkap Juru Bicara Sai Batin Marga Liwa, Ahmadi, S.H.

Masih menurut Ahmadi, pada tahun 2020 Marga Liwa akan mengusulkan nama Prof. KH. M. Sjafii Abdul Karim sebagai nama jalan di Kota Liwa bersama beberapa tokoh Marga Liwa lainnya, diantaranya H. Sulaiman Rasyid bin Lasa,  KH. Rais Latief dan Pangeran Abdurrahman Sampurna Jaya. (lus/mlo)



Pos terkait