Pajarbulan Harapkan Perbaikan Jalan Lapangan Sanayudha

  • Whatsapp

Medialampung.co.id – Jalan Lingkungan Wangunreja, Kelurahan Pajarbulan, Kecamatan Waytenong, Kabupaten Lampung Barat  persisnya dari Balai Kelurahan menuju Lapangan Sanayudha, sudah layak diberikan perawatan, khususnya pembangunan Talud Penahan Tanah (TPT) badan jalan yang menjadi drainase.

Badan jalan yang usianya sudah belasan tahun itu, saat ini di beberapa titik telah mengalami penyempitan akibat dinding drainase yang longsor, sehingga khususnya untuk kendaraan roda empat (R4) atau sejenisnya tidak bisa berpapasan. 

Bacaan Lainnya



Sementara diketahui jalur tersebut merupakan jalan lingkungan yang mobilitasnya cukup aktif, karena di lingkungan tersebut ada dua SD Negeri, MTs, ada RA dan MA, serta keberadaan lapangan Sanayudha yang menjadi lokasi kegiatan yang sifatnya mengumpulkan orang banyak, baik bersifat formal maupun non formal, baik olahraga atau even-even lainnya, seperti Show, upacara hingga pasar malam. 

Lurah Pajarbulan Erna Risnawati, S.E., mengatakan jalur tersebut merupakan jalan kabupaten. Dan upaya yang telah dilakukan pihak kelurahan, dengan telah melakukan pengukuran khususnya untuk mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi, sebagai dasar dalam rencana pengajuan proposal pembangunan.

“Jalur kelurahan ini memang sudah masuk wacana kami, dan sudah kami proses untuk diusulkan ke Pemkab Lambar untuk diberikan pembangunan,” terangnya.

Erna berharap nantinya usulan tersebut dapat direspon dengan cepat, mengingat tingkat keaktifan jalur itu. Yang menjadi pusat keramaian, bukan saja warga Kelurahan Pajarbulan melainkan Kecamatan Waytenong.

“Even-even tingkat kecamatan bahkan tingkat kabupaten selalu dilaksanakan di lapangan Sanayudha, dan jalan ke lokasi itu yakni yang akan kami usulkan untuk ditingkatkan kembali pembangunannya ini,” tandasnya.

Sementara warga lingkungan itu, setiap kali terjadi longsor melakukan upaya penataan secara mandiri untuk mencegah genangan air yang bukan saja menyebabkan banjir tapi menjadi lokasi kumuh.

“Kalau tanah ini tidak kita angkat yang jadi sasaran warga,” ungkap salah satu warga ustad Lala. (r1n/hrs/mlo)




Pos terkait